Jangan Abai dengan Aturan saat Mengunjungi Benteng Pendem Ambarawa!

Nggak asal eksis di berbagai spot, menaati aturan yang berlaku di tempat wisata juga perlu kita lakukan saat traveling, nggak terkecuali saat berkunjung ke Benteng Pendem Ambarawa.

Jangan Abai dengan Aturan saat Mengunjungi Benteng Pendem Ambarawa!
Bangunan Benteng Pendem Ambarawa menyisakan keindahan pasca-kolonial. (Inibaru.id/ Mayang Istnaini)

Inibaru.id – Sobat Millens pernah mengunjungi Benteng Fort Willem I atau lebih dikenal dengan sebutan Benteng Pendem Ambarawa? Kalau sudah, pasti kamu sepakat kalau bangunan peninggalan Belanda itu masih terlihat indah di masa yang sudah cukup senja, bukan?

Namun, buat kamu yang belum pernah ke sana, saya akan berbagi sedikit pengalaman saat berkunjung ke sana belum lama ini.

Cukup dengan biaya parkir sebesar Rp 5.000 saja, saya sudah bisa menikmati benteng yang sebagian masih berfungsi sebagai pemukiman warga ini. Tempatnya asyik dan instagenik.

Saya dibuat kagum dengan arsitektur bangunannya begitu masuk wilayah benteng. Bangunannya masih terlihat kokoh meski sudah berusia ratusan tahun. Pada beberapa sudut memang terlihat bangunan yang mulai roboh dan ditumbuhi rumput liar. Namun, saya tetap kagum dengan eksotisme Benteng Pendem Ambarawa.

Masjid sebagai salah satu fasilitas di Benteng Pendem Ambarawa. (Inibaru.id/ Mayang Istnaini)

Beberapa lama berada di Benteng Pendem, saya justru lebih tergelitik dengan ulah beberapa pengunjung. Kendati sudah ada larangan untuk menaiki lantai dua, masih tampak beberapa pengunjung yang nekat menaikinya, baik untuk sekadar mengambil gambar atau video.

Hm, tampaknya adagium “Peraturan dibuat untuk dilanggar” masih berkembang nih! Entah nggak melihat papan larangan yang terpasang terang di beberapa titik atau memang nggak peduli, yang pasti pengunjung masih tampak bernarsis ria di lantai dua.

Imbauan bagi pengunjung terpasang di beberapa titik benteng. (Inibaru.id/ Mayang Istnaini)

Perlu kamu tahu, lantai dua benteng saat ini difungsikan sebagai tempat tinggal beberapa pegawai Lapas Kelas II A Ambarawa. Larangan sengaja dikeluarkan warga setempat karena merasa kenyamanan dan privasi mereka terenggut. 

Marmi, seorang penjaga parkir benteng yang juga tinggal di lantai dua, mengaku beberapa kali menegur pengunjung yang masih saja menaiki lantai dua.

“Terkadang saya tegur, tapi saya nggak bisa selalu mengawasi gerak-gerik pengunjung di dalam karena harus menjaga parkir,” tutur Marmi.

Menurutnya, peraturan yang sudah terpasang seharusnya bisa ditaati pengunjung.

"Mereka yang datang kan kebanyakan sudah dewasa!" seru dia.

Nah, dengarkan keluhan mereka ya, Sobat Millens. Kamu masih bisa kok bersenang-senang di tempat wisata tanpa melanggar aturan yang sudah diterapkan warga setempat. Yuk, saling menghargai! (Mayang Istnaini/E03)