Belajar dari Laba-laba, Orang Manggarai Menata Sawah

Nggak hanya terkenal karena Komodo, Flores juga terkenal akan kearifan lokalnya. Salah satunya yaitu warisan alam Lingko Lodok yang berhasil menarik banyak wisatawan untuk berkunjung. Inspirasinya berasal dari jaring laba-laba.

Belajar dari Laba-laba, Orang Manggarai Menata Sawah
Persawahan Lingko Lodok Rawang di Kampung Rawang, Kecamatan Lambaleda, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur.(Kompas.com/Markus Makur)

Inibaru.id - Jika selama ini sobat Millens hanya mengenal binatang Komodo sebagai daya tarik pulau Flores, sepertinya kamu mainnya kurang jauh nih. Karena ternyata alam dan budaya orang Manggarai di Flores sudah lebih dahulu dikenal secara luas oleh wisatawan asing maupun Nusantara. Bahkan sebelum binatang Komodo menjadi salah satu dari tujuh keajaiban dunia.

Leluhur orang Manggarai di Flores, Nusa Tenggara Timur mewarisi kearifan lokal yang nggak dijumpai di tempat lain di dunia ini. Alhasil, warisan budaya dari leluhur orang Manggarai ini berhasil menarik orang asing untuk melakukan penelitian tentang keajaiban alamnya, termasuk rumah adatnya yang berbahan alamiah.

Hmm…Apakah kalian tahu warisan alam yang berhasil menarik orang asing berkunjung ke kawasan Manggarai? Ternyata, sistem pembagian tanah yang berkeadilan serta bentuknya yang unik, mampu menarik orang asing untuk berkunjung. Sistem pembagian tanah tersebut adalah Lingko Lodok yang tersebar di Manggarai, Manggarai Timur dan Manggarai Barat. Warisan Lingko Lodok itu terinspirasi dari keunikan yang dilakukan binatang laba-laba ketika membuat sarang.

Kalau kamu mengamati bagaimana cara laba-laba membuat sarangnya, seperti ada lem dari air liurnya sehingga merekat dari satu sisi ke sisi lainnya. Nah, terinspirasi dari kegiatan laba-laba mereka kemudian melakukan pembagian tanah dengan bentuk jaring laba-laba. Selain itu, mereka juga membangun rumah adat yang berbentuk seperti jaring laba-laba lo. Menarik sekali bukan?

Lingko dalam bahasa Manggarai adalah hamparan yang luas, sedangkan lodok adalah bagian terkecil di dalam lingko itu dengan sistem pembagian lahan untuk masing-masing warga komunal atau klan dalam berbagai suku.

Bernama Mbaru gendang, rumah adat orang Manggarai bentuknya kerucut, sangat menyatu dengan bentuk Lingko Lodok. Antara rumah adat dan Lingko Lodok nggak terpisahkan maknanya. Ada satu kesatuan yang sangat menyatu antara rumah adat Mbaru gendang dan Lingko Lodok. Dalam bahasa Manggarai, penyatuan itu adalah gendang one lingko peang (ada rumah adat di perkampungan juga ada lahan komuninal di luarnya). Dalam ritus-ritus adatnya, mereka selalu berhubungan dengan alam sehingga nggak mengherankan bahwa bagi orang Manggarai, alam dan rumah adat tak terpisahkan.

Baca juga:
Panjat Dinding Tanpa Tali di Atas Kolam, Siapa Takut?
Sunset oh Sunset Sindangkerta...

Mengutip Kompas.com (25/11/2017), di Kabupaten Manggarai terkenal dengan dengan 1000 rumah adat Mbaru Gendang yang tersebar di kampung-kampung. Sayang, sebagian besar rumah adat itu beratap seng, bukan beratap ijuk dari pohon enau  sebagaimana bentuk aslinya.

Tapi tenang saja, kamu masih bisa melihat rumah adat Mbaru Gendang yang asli kok. Karena masih ada empat kampung tradisional yang masih utuh dan asli bentuk rumah adatnya, yang terbuat dengan atap ijuk dari pohon Enau.

Salah satu rumah adat Gendang di Bangka Tuke, Kecamatan Langke Rembong, Kabupaten Manggarai, Flores, NTT. (Kompas.com/Markus Makur)

Di mana sajakah itu?

Yang pertama yaitu Kampung Tradisional Waerebo yang berada di Desa Waerebo, Kecamatan Satarmese Barat, Kabupaten Manggarai, NTT. Mbaru Gendang atau Niang di kampung itu yang kini tersohor ke seluruh dunia dan diakui oleh UNESCO. Menjadi tujuan utama wisatawan asing dan Nusantara, kampung ini berada di ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut.

Kedua yaitu Kampung Adat Todo. Berada di Kecamatan Satarmese Barat, Manggarai, NTT, di kampung ini berdiri dua rumah adat yang beratapkan ijuk dari pohon enau. Dulu, ada sejumlah rumah adat Kampung Todo, namun, karena usia rumahnya sudah sangat tua sehingga rusak. Ketiga, Kampung Ruteng Puu. Konon kampung ini merupakan kampung pertama di Manggarai lo. Karena lokasinya nggak jauh dari Kota Ruteng, kampung ini bisa dikatakan berada di Pusat Kota Ruteng, ibu kota Kabupaten Manggarai. Yang terakhir yaitu Kampung Adat Bangka Tuke. Berada nggak jauh dari Kota Ruteng, kampung ini baru direnovasi ke bentuk aslinya.

Selain rumah adat Mbaru Gendang, kamu juga bisa melihat persawahan Lingko Lodok yang ada di Manggarai. Asal kamu tahu saja nih, persawahan Lingko Lodok hanya ada di tiga Kabupaten dari sembilan Kabupaten di Pulau Flores, lo. Untuk melihat persawahan langka ini, kamu bisa mengunjungi hamparan persawahan raksasa Lingko Lodok di Meler, Desa Meler, Kecamatan Ruteng, Manggarai. Menjadi destinasi unggulan Pemkab Manggarai, persawahan ini selalu dikunjungi wisatawan mancanegara dan Nusantara. 

Baca juga:
Yuk ke Rumah Hobbit di Antara Rimbunan Pinus di Bantul
Mendayung Kayak dan Menerobos Kabut Telaga Merdada

Kedua, persawahan Lingko Lodok Bangka Tuke. Berada di lereng kampung, kamu bakal disuguhi keunikan persawahan Lingko Lodok sebelum memasuki perkampungan adat tersebut. Ketiga yaitu persawahan Lingko Lodok Carep. Persawahan berbentuk laba-laba ini bakalan menyambutmu jika naik pesawat terbang dari arah Kupang dan Labuan Bajo.

Nah, itu semua adalah warisan leluhur orang Manggarai yang masih bertahan hingga kini. Meskipun zaman semakin modern, orang Manggarai terus merawat dan menjaga serta melestarikan warisan leluhurnya. Kalau kamu bagaimana, masihkah setia melestarikan warisan budaya leluhurmu? (ALE/SA)