Konsep Rumah Panggung di Microlibrary Semarang, Tetap Terang dan Sejuk meski Tanpa Lampu dan AC

Konsep Rumah Panggung di Microlibrary Semarang, Tetap Terang dan Sejuk meski Tanpa Lampu dan AC
Microlibrary berada di dekat Taman Kasmaran dan Kampung Pelangi. (Inibaru.id/ Audrian F)

Meski tanpa penerang dan pendingin Microlibrary Semarang tetap menawarkan suasana yang nyaman untuk membaca buku karena menerapkan konsep rumah panggung terbuka yang teduh dan bertabur cahaya matahari. 

Inibaru.id - Kalau saat berada di pusat Kota Semarang pada siang hari, saya kadang kesulitan untuk menemukan tempat yang teduh dan nyaman untuk melepas lelah sejenak. Namun, belakangan saya menemukan tempat yang cocok, yakni di Microlibrary yang berlokasi sekitar sepelemparan baru dari Kampung Pelangi atau Taman Kasmaran.

Microlibrary sebetulnya direncanakan hadir pada awal tahun ini. Sebab, saat pembangunan, saya sempat berkunjung. Namun mungkin karena adanya pandemi, tempat itu baru dibuka dalam sebulan terakhir.

Awalnya saya kira Microlibrary sekadar tempat terbuka. Tapi, ternyata ada pengelola yang menjaganya sekaligus sebagai petugas perpustakaan.

Saat berkunjung pada Sabtu (12/9/2020), saya dites suhu terlebih dahulu, lalu diarahkan untuk menyimpan tas.

Nur Azizah sedang membacakan dongeng buat anaknya. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>
Nur Azizah sedang membacakan dongeng buat anaknya. (Inibaru.id/ Audrian F)

Saya bertemu dengan Nur Azizah. Ibu dua anak ini bukanlah warga Semarang, tapi dari Kudus. Kebetulan dia sedang berlibur ke Semarang dan menyempatkan diri untuk mampir. Saya mendengar dia sedang mendongengi untuk dua anaknya.

“Ini lo, Dek, lihat gambarnya. Kura-kuranya menolong harimau,” ucapnya, yang mengaku selalu berupaya menjadikan membaca sebagai budaya di keluarganya.

Dia dan keluarga memang tampak begitu girang di Microlibrary. Menurutnya, selain menyediakan banyak koleksi buku, tempatnya  juga nyaman.

“Tempat yang enak, sayang bukan di dekat rumah saya,” celetuknya, lalu terkekeh.

Koleksi yang Lumayan

Seorang anak dan buku Isabel Allende. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>
Seorang anak dan buku Isabel Allende. (Inibaru.id/ Audrian F)

Menyempatkan diri menilik pelbagai koleksi buku di sana, saya cukup keranjingan dibuatnya. Koleksinya lumayan dan cukup referensial. Kondisi bukunya juga masih tampak baru.

Beberapa karya penulis asing tampak berderet di sana. Pun demikian dengan buku-buku yang selama ini "disorot", di antaranya yang ditulis Wiji Thukul dan Pramoedya Ananta Toer. Ehm, tapi, secara keseluruhan, menurut saya, masih kurang banyak! Ha-ha. Ini terlihat dari sejumlah sudur di rak buku yang masih kosong.

Menurut Hadassah Gloria Purnama dari Harvey Center sebagai pengelola Microlibrary, ada beberapa fasilitas di tempat tersebut, salah satunya seating tribune yang bisa dipakai untuk duduk, aktivitas workshop, atau berkumpul. Ada ayunan kayu untuk anak-anak, serta di dalam perpustakaan, ada jaring atau net yang dapat digunakan untuk membaca.

“Pokoknya ramah lingkungan dan fungsional,” ujarnya.

Dia juga menambahkan kalau Microlibrary bisa menampung 20 orang di lantai atas. Namun, selama pandemi dibatasi hanya 10 orang.

Bebas Nongkrong Bareng Teman-Teman

Ada ayunan bersama yang bisa dinaiki bersama teman-teman. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>
Ada ayunan bersama yang bisa dinaiki bersama teman-teman. (Inibaru.id/ Audrian F)

Untuk Kota Semarang yang panas, Microlibrary adalah tempat yang lumayan nyaman untuk ngadem. Nggak hanya membaca buku, kamu juga bisa mengerjakan tugas, diskusi, atau sekadar kumpul bareng teman-teman. Hal ini seperti dilakukan Anisa Nur Safitiri.

Sekilas melihat mahasiswa Universitas Negeri Semarang (Unnes) itu, saya bisa memastikan dia sedang mengerjakan tugas. Bersama temannya, sesekali dia mencari referensi atau sekadar melihat-lihat buku di rak.

“Iya, semula cari tempat baru buat nugas. Eh, enak juga. Buku-bukunya asyik dan ada wifinya. Jadi saya merasa nyaman,” tuturnya, mengonfirmasi tebakan saya.

Anisa, begitu dia biasa disapa, mengaku mengetahui Microlibrary dari temannya. Setelah mengetahui tempat ini, dia pun berjanji di kemudian hari dia mengaku bakal lebih sering berkunjung ke tempat tersebut.

Tanpoa penenrangan dan AC, Microlibrary sudah terang dan adem. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>
Tanpoa penenrangan dan AC, Microlibrary sudah terang dan adem. (Inibaru.id/ Audrian F)

Sama seperti Anisah, saya juga betah berjam-jam di tempat ini. Fasilitasnya oke, lengkap dengan sirkulasi udara dan pencahayaan yang baik. Jadi, meski tanpa pendingin ruangan dan lampu, Microlibrary tetap sejuk dan terang.

Apa yang saya rasakan memang sesuai dengan yang dikatakan oleh Daliana Suryawinata, direktur dari perusahaan yang menginisiasi konsep Microlibrary ini, yaitu Suryawinata Haizelman Architecture Urbanism (SHAU).

Daliana mengatakan, Microlibrary mengadopsi konsep rumah panggung tradisional Indonesia yang terbuka. Untuk inspirasinya, dia mengambil bentuk Warak Ngendog, simbol Kota Lunpia.

“Konsep rumah panggung mengatur alur ventilasi udara, pencahayaan, dan konsep multifungsi suatu ruangan," terangnya. "Ada ruang pada bagian bawah untuk berbagai kegiatan yang bisa dilakukan warga.”

Seperti saya yang jatuh cinta pada Microlibrary, agaknya kamu juga bakal menjadikan tempat cozy ini sebagai daftar kunjung favorit kalau ke Semarang, Millens! (Audrian F/E03)