Kisah Pasir Hitam dan Panggung Sangga Buana Keraton Surakarta yang Misterius

Berkunjung ke Kota Solo nggak lengkap kalau belum mampir ke Keraton Surakarta. Selain arsitekturnya yang klasik, mitos-mitosnya juga menarik untuk diketahui. Salah satunya adalah mitos pasir keraton dan Panggung Sangga Buana. Seperti apa kisahnya?

Kisah Pasir Hitam dan Panggung Sangga Buana Keraton Surakarta yang Misterius
Papan larangan membawa pasir Keraton Surakarta. (Inibaru.id/ Inadha Rahma Nidya)

Inibaru.id – Keraton Surakarta dibangun pada tahun 1743, dan diresmikan pada 17 Februari 1745. Saat ini, Keraton Surakarta menjadi salah satu wisata budaya yang sering dikunjungi oleh wisatawan.

Menjadi destinasi favorit di Solo, ada sejumlah aturan yang musti kamu patuhi. Misalnya untuk masuk ke dalam keraton, pengunjung harus menggunakan sepatu dan celana panjang. Pengunjung yang memakai sandal disarankan untuk melepasnya dan berjalan tanpa alas kaki. Sementara, pengunjung yang menggunakan celana pendek akan disarankan untuk menggunakan kain di pinggangnya.

Di dalam keraton, terdapat komplek yang diberi nama Sri Manganti. Komplek ini merupakan halaman luas yang terdiri dari bangsal dan Panggung Sangga Buwana. Halaman komplek ditumbuhi 76 pohon Sawo Kecik dan dipenuhi oleh pasir berwarna hitam.

Panggung Sangga Buwana. (Inibaru.id/ Inadha Rahma Nidya)

Nah, aturan lainnya adalah nggak boleh membawa pasir hitam tersebut. Konon, pasir tersebut bukan pasir biasa karena berasal dari Pantai Selatan dan sudah berusia 200 tahun. Pasir tersebut juga dipercaya dapat menyembuhkan segala jenis penyakit jika mau berjalan di atasnya.

Di komplek ini juga pengunjung diizinkan untuk berfoto. Tapi jangan sambil berlari atau berlompatan karena di beberapa titik, diletakkan sesaji yang nggak boleh diinjak. Selain itu, jangan iseng memindahkan daun yang sudah jatuh, apalagi memetiknya dengan sengaja.

Ada satu tempat lagi yang cukup menarik karena cerita mistis di dalamnya, lo yaitu Panggung Sangga Buwana. Bangunan ini juga ada di komplek Sri Manganti. Berbentuk segi delapan dan menjulang tinggi, menurut cerita bangunan tersebut memiliki tiga fungsi yaitu tempat meditasi, tempat berinteraksi dengan penguasa pantai Selatan, dan melihat bulan untuk menentukan bulan Puasa.

Transportasi zaman dulu. (Inibaru.id/ Inadha Rahma Nidya)

Selain komplek Sri Manganti, pengunjung Keraton Surakarta juga bisa masuk ke museum yang menyimpan barang peninggalan Sultan. Mulai dari transportasi zaman dulu, patung, senjata, hingga perlengkapan rumah tangga terpajang rapi di sana.

Buat kamu yang berniat ke sana harus selalu ingat untuk mematuhi segala aturan yang ada ya. Memang sih nggak ada informasi jelas apa yang akan terjadi, tapi bukankah di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung? He (Inadha Rahma Nidya/E05)