Kelenteng Tek Hay Bio dan Kisah Perjuangan Kwik Lak Kwaa

Kelenteng Tek Hay Bio dan Kisah Perjuangan Kwik Lak Kwaa
Kelenteng Tek Hay Bio di Pecinan Semarang. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)

Kwik Lak Kwaa merupakan tokoh Tionghoa yang berjuang melawan penjajah Belanda. Dia juga berjasa menyembuhkan banyak orang dari berbagai macam penyakit. Atas jasanya tersebut dibangun tempat ibadah bernama Kelenteng Tek Hay Bio.

Inibaru.id – Kelenteng Tek Hay Bio letaknya sangat dekat dengan Pasar Semawis Pecinan. Kelenteng ini terletak di Jalan Gang Pinggir Nomor 105-107 Semarang dan telah menjadi salah satu cagar budaya tempat beribadah umat Tridharma.

Bangunan kelenteng memiliki setidaknya beberapa titik ruang ibadah. Yaitu di ruang utama, ruang sayap, dan ruang atas. Di sana, saya bertemu dengan  seorang umat Tridharma Kelenteng Tek Hay Bio bernama Ardian Cangianto.

Ruang utama Kelenteng Tek Hay Bio. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)
Ruang utama Kelenteng Tek Hay Bio. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)

Dia  menjelaskan, Kelenteng Tek Hay Bio dari beberapa catatan sejarah menjadi kelenteng tua yang berdiri di area Pecinan Semarang. Kelenteng dibangun pada tahun 1754-1757 di Semarang untuk menghormati tokoh pahlawan lokal bernama Kwik Lak Kwaa.

"Untuk menghormati tokoh dagang yang moksa, Kwik Lak Kwaa, dewa utama di sini. Ini aslinya kelenteng marga, marga Kwee," katanya.

Selain dikenal sebagai pedagang, Kwik Lak Kwaa juga memiliki keahlian mengobati penyakit, Millens. Dia ikut berperang melawan penjajah Belanda lantaran dipicu peristiwa pembantaian 10.000 orang Tionghoa di Batavia pada 1740 yang dikenal sebagai Geger Pecinan atau Tragedi Angke.

Namun, dalam perlawanan itu Kwik Lak Kwaa dan tokoh Tionghoa lain kalah persenjataan hingga terpaksa melarikan diri ke Jawa Tengah. Di sana mereka menyusun rencana serangan balasan. Kelompok Kwik Lak Kwaa dibantu pejuang pribumi dan Pasukan Sepanjang menyerang pos kompeni di Tegal.

Sayangnya keberuntungan nggak berpihak pada mereka. Saat berlayar di lepas pantai Tegal, Kwik Lak Kwaa bersama pembantu setianya dari Jawa dirampok. Nggak lama kemudian badai datang dan menenggelamkan kapal. Sejak saat itu banyak kesaksian yang mengatakan Kwik Lak Kwaa telah menyembuhkan banyak orang, dan orang percaya Kwik Lak Kwaa telah diangkat sebagai dewa. 

Kisah Kwik Lak Kwaa sampai ke Dinasti Qing dan Kaisar Qianlong memberinya anugerah orang suci pelindung para pedagang di lautan (Zehai Zhenren). Sebagai dewa utama, Kwik Lak Kwaa ini unik karena bukan dewa "impor". Kalau Millens mencari nama ini di Tiongkok nggak akan ketemu, he-he.

Ruang kelenteng yang menjadi tempat papan arwah para leluhur. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)
Ruang kelenteng yang menjadi tempat papan arwah para leluhur. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)

Keunikan lain dari kelenteng ini terdapat papan arwah. Jumlahnya lebih dari 100 dan disimpan rapi di kelenteng. Ini sebagai pengingat dan penghormatan akan jasa-jasa para leluhur.

“Papan arwah isinya daftar nama. Ada nama, tahun lahirnya, tahun meninggalnya, tapi di dalam harus dibuka. Ini posisinya. Nama-nama posisinya di sini,” jelas Ardian menunjuk papan berisi kotak-kotak tulisan.

Ardian juga mengajak saya menelusuri beberapa ruang yang ada di kelenteng. Ternyata letak ruang menggambarkan hierarki tertentu. Jika rupang dewa berada di lantai atas, posisinya berarti lebih tinggi daripada rupang dewa yang berada di lantai bawah.

Ritual ibadah di depan altar Dou Mu Yuan Jun. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)
Ritual ibadah di depan altar Dou Mu Yuan Jun. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)

Saya melihat tiga altar dengan rupang-rupang yang berbeda di lantai dua kelenteng. Termasuk rupang Dou Mu Yuan Jun Dewi dari Bintang Utara, San Qing Dao Zu pembuka jalan Tao atau Dewa tertinggi Taoisme, Lei Shen Hua Tian Zun Dewa Petir.

Di ruang atas saya juga melihat tulisan-tulisan penting terkait ajaran umat Tridharma seperti tiga pusaka ajaran Tao yang terdiri dari welas asih, sederhana, dan rendah  hati. Juga ajaran lain seperti “perkataan indah tak selalu benar, kebenaran tidak selalu enak didengar” dan “orang bijaksana lebih mementingkan bersahaja daripada kemewahan panca indra.”

Saya manggut-manggut sambil merenung, setiap agama selalu mengajarkan kemuliaan. (Isma Swastiningrum/E05)