Kelenteng Hoo Hok Bio, Sinar Dewa di Sebuah Gang Cilik

Kelenteng Hoo Hok Bio, Sinar Dewa di Sebuah Gang Cilik
Rupang Dewa Bumi di Hoo Hok Bio. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)

Hoo Hok Bio merupakan salah satu kelenteng yang ada di kawasan Pecinan Semarang. Kelenteng ini memiliki pesonanya tersendiri. Seperti apa ya kelenteng yang telah ditetapkan oleh Pemkot Semarang sebagai bangunan cagar budaya tersebut?

Inibaru.id – Letak Kelenteng Hoo Hok Bio cukup tersembunyi di Gang Cilik No. 7 Gajahmungkur, Kota Semarang. Jika nggak ada papan penunjuk yang berdiri di sebuah gang kecil, mungkin saya nggak akan sampai di tempat ini. Rasa penasaran mendorong saya untuk memberanikan diri berkunjung.

Berada di depan pagar kelenteng yang berhias tulisan mandarin dengan warna bangunan yang didominasi merah dan emas, saya langsung keder untuk masuk. Sebab ini baru kali pertama memasuki kelenteng yang murni digunakan sebagai tempat ibadah (bukan wisata).

Gerbang masuk kelenteng Hoo Hok Bio.(Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)

Di sana saya melihat lelaki paruh baya tengah bersih-bersih area kelenteng. Ada pula dua remaja laki-laki yang tengah duduk-duduk di pelataran kelenteng. Salah seorang bocah itu mengatakan kalau saya pun boleh masuk kelenteng. Saya girang bukan kepalang mendengarnya.

Baca juga: Berdoa di Kelenteng Hoo Hok Bio Pecinan Semarang

                  Ini Pasal yang Bikin ZA Dipenjara Seumur Hidup Karena Bunuh Begal

Saya memperhatikan naga, singa, burung, dan hewan mitologi lainnya terukir apik di beberapa bagian kelenteng. O ya, setiap kelenteng memiliki tuan rumah Dewa Dewinya sendiri ya, Millens. Dewa Dewi ini diletakkan di ruang khusus yang disebut rupang atau yang masyarakat awam menyebutnya patung (tapi beda ya).

Buah-buah yang ada di dalam kelenteng. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)

Di Hoo Hok Bio saya perhatikan ada tiga ruang utama (altar) untuk ibadah umat Tridharma. Ruang ibadah yang terletak di tengah tempat Hok Tek Tjien Sien (Dewa Bumi), serta ruang ibadah yang ada di kanan tempat  Dewi Kwan Im dan ruang yang berada di kiri tempat Kwan Seng Tee Kun. Khusus di ruang Dewi Kwam Im saya mendengar bunyi puji-pujian yang dilantunkan berulang-ulang dari pengeras suara.

Di setiap ruang, aroma hio (dupa) langsung tercium syaraf hidung saya. Di sana juga ada berbagai buah-buahan yang disajikan dalam meja besar seperti pir, jeruk, apel, hingga bakpao dan kue moho tertata rapi di atas piring berwarna merah. Di meja itu terdapat pula lilin dan minuman teh.

Dupa yang ada di kelenteng. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)

Di sisi pinggir kanan ruang tengah, saya juga menemukan buku bersampul merah muda berjudul Tutunan Baik & Kebenaran dari Avalokiteshvara (Dewi Kwan Im). Buku itu berisi tuntunan dan doa berbuat kebaikan. Salah satu isinya, setiap manusia seharusnya menjadi ksatria sejati yang bisa menaklukan diri sendiri. Keren ya?

Mungkin akan lebih menarik jika saya bisa bertanya satu atau dua hal pada seseorang yang mengerti. Saya teringat pada lelaki paruh baya yang saya lihat membersihkan halaman. Sayang sekali dia menolak keinginan saya secara halus. Meski dapat penolakan, kunjungan saya kali ini tetap bermakna. (Isma Swastiningrum/E05)