Jalan Kaki Sekaligus Mengeja Peradaban Kota Semarang bersama Bersukaria Walk

Berjalana-jalan di sebuah kota adalah hal yang biasa. Namun, Bersukaria Walk menyuguhkan pengalaman berbeda saat kamu mengikuti kegiatan ini.

Jalan Kaki Sekaligus Mengeja Peradaban Kota Semarang bersama Bersukaria Walk
Pemandu Bersukaria Walk rute Radja Goela Dwi Meinati sedang memberi penjelasan kepada peserta. (Inibaru.id/ Ida Fitriyah)

Inibaru.id – Ada yang berbeda dengan Minggu (17/3/2019) pagi kala itu. Saya yang biasanya masih gelesotan di atas kasur, pukul 8 pagi sudah harus berjibaku dengan macetnya jalanan sekitar Taman Indonesia Kaya (TIK). Terlebih saat itu sedang ada acara berskala provinsi, tambah tumpah ruah kendaraan dan manusia di jalanan.

Namun, saya tetap bersemangat karena pagi itu saya sudah mendaftarkan diri untuk mengikuti walking tour yang diadakan salah satu agensi wisata di Semarang,  Bersukaria Tour. Dengan program Bersukaria Walk yang digagas sejak 2016 itu, agensi ini memfasilitasi mereka yang pengin berjalan-jalan di Kota Semarang sambil kilas balik sejarah dari setiap bangunan yang dilewati.

Tepat pukul 08.20 WIB saya menemui rombongan walking tour di tempat yang sudah dijanjikan. Saat itu, sang pemandu, Dwi Meinati sedang mengarahkan peserta mengenai peraturan selama mengikuti trip ini.

Setelah cukup jelas, saya bersama rombongan pun mulai menapaki satu per satu rute hari itu yakni Radja Goela. Paling tidak ada sejumlah 20 orang masuk dalam rombongan saya. Di antara orang-orang itu ada mahasiswa yang pengin lebih tahu Semarang, ibu-ibu muda yang mengisi akhir pekan, dan beberapa orang dari luar kota yang menyempatkan diri mengikuti tur ini.

Menyusuri tur Radja Goela, kami terlebih dulu diajak berputar melewati monumen yang ada di persimpangan antara Jalan Menteri Supeno dan Jalan Pahlawan. Pemandu kemudian menjelaskan, monumen yang selama ini hanya saya lewati dan abaikan itu bila dilihat mirip dengan rebung. Hal itu masing berkaitan dengan makanan khas Semarang yakni lunpia yang terbuat dari rebung. Penjelasan ini cukup membuat saya tertegun. “Oh, begitu, ya!”

Monumen rebung yang sering diabaikan para pengguna jalan yang lalu lalang. (Inibaru.id/ Ida Fitriyah)

Usai membelah lautan manusia yang berjubel di Jalan Pahlawan, pemandu menghentikan kami di depan salah satu kantor yang didominasi warna merah. Di situ, pemandu yang akrab disapa Mei itu mulai memberikan bocoran siapa itu Radja Goela yang dimaksud.

Kami kemudian melanjutkan perjalanan sembari berhenti beberapa kali seperti di depan Kantor Gubernur Jawa Tengah, di depan Polda Jawa Tengah, beberapa kali di jalur pedestrian Jalan Veteran, kantor OJK yang dulunya rumah depan Oei Tiong Ham, rumah peninggalan Abraham Fletterman, bong massal di kawasan Gergaji, dan berlabuh di Makam Ki Ageng Pandanaran di daerah Mugas.

Sepanjang jalan itu, sang pemandu Mei menceritakan Oei Tiong Ham yakni pengusaha di Semarang yang dinobatkan sebagai orang terkaya se-Asia pada abad ke-19. Rute ini dinamakan Radja Goela karena memang peserta diajak menekuri peninggalan si Oei Tiong Ham yang nggak lain terkenal karena usaha gulanya.

Jangan bayangkan pemandu bercerita seperti membaca buku sejarah berjilid-jilid yang sering kamu temui di perpustakaan sekolah, ya! Dalam walking tour ini, pemandu membawakan sejarah dengan kalimat-kalimat yang ringan. Sesekali, saya juga diberi tahu isu-isu seputar bangunan atau tokoh yang diceritakan.

Pemandu tur Dwi Meinati menunjukkan foto zaman dahulu Hotel Siranda kepada peserta tur. (Inibaru.id/ Ida Fitriyah)

Pemandu juga menyiapkan foto-foto zaman dulu bangunan yang saya singgahi seperti jalan yang kini membentang antara Polda Jateng hingga Simpang Lima, Hotel Siranda yang kini terbengkalai, si Raja Gula, dan Istana Balekambang milik Raja Gula. Yap, istana karena luasnya mulai dari bangunan yang kini menjadi Kantor OJK hingga dua gedung pemerintahan yakni Kantor Gubernur dan Polda Jateng.

Rumah bagian depan milik Oei Tiong Ham saat ini disewa menjadi kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK). (Inibaru.id/ Ida Fitriyah)

Setelah berjalan lebih kurang selama tiga jam, saya cukup lelah tapi masih antusias dengan penjelasan pemandu hingga di titik terakhir yakni Makam Ki Ageng Semarang. Tenaga juga cukup terkuras karena berjalan berkilo-kilo meter dengan medan yang naik turun khas perbukitan. Namun, kalau ditawari lagi untuk ikut tur semacam ini lagi sih saya pasti siap. Ha-ha.

Salah seorang peserta yang ikut di kelompok saya Anindya Pithaloka juga terlihat sangat antusias. Hari itu adalah kali kedua dia mengikuti walking tour ini.

“Pas tahu di Semarang ada aku Alhamdulillah banget. Ternyata nggak cuma di Jakarta tapi di kota lain, di kotaku sendiri malah. Wah, bersyukur banget sih!” ujar perempuan asli Semarang yang kini berdomisili di Jakarta itu.

Kamu tertarik pengin ikutan juga nggak, Millens? (Ida Fitriyah/E05)