Ironi Kampung Akuaponik Kandri di Musim Kemarau

Ironi Kampung Akuaponik Kandri di Musim Kemarau
Kampung Akuaponik, Desa Wisata Kandri, Gunungpati, Semarang. (Inibaru.id/ Dyana Ulfach)

Tepat di depan pintu masuk, kamu bakal disambut sebuah kolam dan media akuaponik terbesar di kampung ini. Tapi semua itu berubah ketika musim kemarau memutuskan "tinggal" lebih lama.

Inibaru.id – Terletak di kawasan perumahan yang minim lahan, sistem akuaponik sangat tepat diterapkan di RW 4, Kelurahan Kandri, Gunungpati, Semarang. Dengan memanfaatkan lahan seadanya, berbagai tanaman dapat kamu temui di Kampung Akuaponik ini.

FYI, akuaponik adalah teknik bertani yang menggabungkan akuakultur serta hidroponik. Dengan akuaponik, air dari kolam ikan akan terpompa dan mengalir ke tanaman. Air itulah yang dimanfaatkan sebagai pupuk bagi tanaman. Selain itu, air yang mengaliri tanaman akan kembali ke kolam dengan keadaan yang sudah bersih.

KampungAkuaponikKandriSemarang

Salah satu Akuaponik yang terdapat di Kampung Akuaponik, Kandri, Semarang (Inibaru.id/ Dyana Ulfach)

Sejak diinisiasi oleh Syafi’i pada tahun 2017, Kampung Akuaponik Kandri seringkali mendapat kunjungan dari berbagai instansi. Mereka berguru untuk mendapat edukasi mengenai akuaponik. Pelatihan akuaponik dimotori oleh Kelompok Tani Akuaponik yang juga dipimpin oleh Syafi’i.

Bahkan, kampung ini juga menerima pesanan media akuaponik sampai ke luar Jawa, lo. Selain itu, desa ini juga menjual alat dan bahan bagi pengunjung yang pengin membuat akuaponiknya sendiri.

Akibat kemarau panjang yang melanda sebagian wilayah di Indonesia termasuk dataran tinggi di Semarang ini,  banyak tanaman yang mati. Ini menjadi hambatan utama teknik akuaponik, Millens. Pasalnya, air sebagai penggerak teknik ini sedang sulit ditemui. Akhirnya hanya tersisa beberapa warga yang masih mempertahankan media akuaponik miliknya.

KampungAkuaponikKandri

Kolam Terbesar di Kampung Akuaponik, Kandri, Semarang. (Inibaru.id/ Dyana Ulfach)

“Dulu itu setiap rumah di sini punya akuaponik semua. Makanya dinamai kampung akuaponik, kan. Tapi ya karena kemarau panjang dan mungkin warga ada yang keberatan karena listrik juga, kan. Akhirnya ya hanya ada beberapa saja yang masih ada,” ucap Ariyono, warga RT 4 RW 4 desa Kandri, kepada Inibaru.id.

Ariyono mengaku dengan dijadikannya kampung ini menjadi kampung akuaponik, sangat membantu perekonomian warga. Ini karena tanaman yang ditanam menggunakan teknik akuaponik adalah tanaman-tanaman yang dapat dikonsumsi. Seperti kangkung, bayam, daun bawang, sawi, stroberi, bahkan daun min juga bisa tumbuh dengan teknik ini. Bahkan di salah satu sudut desa ini, Millens bakal menemukan tanaman padi yang tumbuh subur dengan teknik ini.

Ariyono, warga RT 4 RW 4 Desa Kandri, Gunungpati, Semarang, yang sedang membersihkan akuaponiknya. (Inibaru.id/ Dyana Ulfach)

Selain tanaman, ikan yang dibudidayakan juga biasa dikonsumsi sendiri bahkan dijual dalam kondisi siap makan. Ikan yang dibudidayakan dengan teknik akuaponik ini terdiri atas ikan lele dan ikan nila.

Hanya dengan membayar biaya registrasi sebanyak Rp 100.000, kamu bakal mendapatkan modul dan pelatihan di Kampung Akuaponik ini. Bahkan Millens bakal mendapatkan pendampingan selama 3 bulan. Tertarik nggak, Millens? (Dyana Ulfach/E05)