Gerimis, Pasar Semawis, dan Rasa Rindu yang Nggak Habis-Habis

Gerimis, Pasar Semawis, dan Rasa Rindu yang Nggak Habis-Habis
Pasar Semawis atau juga disebut Warung Semawis digelar di sepanjang Gang Warung, Pecinan Semarang. (Inibaru.id/ Kharisma Ghana Tawakal)

Pasar Semawis yang kembali dibuka setelah dua tahun pandemi sukses membawa saya bernostalgia, mengulang rindu yang nggak habis-habis meski malam itu rada gerimis. 

Inibaru.id - Sabtu malam kelabu. Gerimis sempat turun di tengah perjalanan saya menuju Pecinan Semarang, belum lama ini. Namun, hal itu agaknya nggak menghentikan langkah orang-orang untuk memeriahkan malam di Pasar Semawis, tempat yang juga saya tuju.

Begitu mendengar kabar bahwa pasar malam di jantung pecinan itu sudah kembali dibuka setelah dua tahun vakum didera pandemi, saya nggak bisa menahan kerinduan bertandang ke sana. Saya rindu pada membaurnya orang-orang dari berbagai usia, etnis, agama, dan latar belakang di sana.

Memasuki bilangan Kranggan, kendaraan mulai mengular; sebagian berjalan pelan, sisanya diparkir di bahu Jalan Wachid Hasyim. Saya yang gagal mencapai Gerbang Pecinan pun akhirnya memutuskan memarkir kendaraan sekitar 500 meter dari sana.

"Wah, nek Sebtu ngene rame, Mbak! Wingi lha sepi!" kata seorang juru parkir dengan logat Jawa Semarangan, yang intinya mengatakan bahwa kalau Sabtu tempat itu memang ramai, nggak seperti Jumat.

Anak muda Semarang menjadikan Semawis sebagai salah satu tempat untuk mengisi malam pada akhir pekan.  (Inibaru.id/ Kharisma Ghana Tawakal)
Anak muda Semarang menjadikan Semawis sebagai salah satu tempat untuk mengisi malam pada akhir pekan. (Inibaru.id/ Kharisma Ghana Tawakal)

Saya sebetulnya sudah menduganya. Pasar yang digelar saban Jumat, Sabtu, dan Minggu itu pasti bakal diserbu pengunjung pada akhir pekan. Namun, pengunjung malam itu yang didominasi anak muda rupanya jauh melebihi dugaan saya.

Meski begitu, agak lega rasanya karena sebagian orang masih bermasker. Kalaupun ada yang abai, beberapa petugas patroli akan segera menegur mereka. Saya pun bisa leluasa melepas rindu di pasar yang sudah digelar sejak 2004 tersebut.

Nggak pengin buru-buru jajan, saya memilih berjalan pelan hingga ujung Gang Warung, menikmati hiasan lampion dan ornamen merah di sepanjang gang dan alunan musik khas kafe yang berpadu dengan keriuhan orang-orang yang mengantre makanan atau sekadar duduk di pinggir jalan. 

Pada sisi kiri jalan, berderet warung yang menjual makanan modern maupun tradisional. Hampir setiap warung ada pelanggan untuk dilayani. Beberapa tenda bahkan mempunyai antrean pengunjung yang luar biasa banyak.

Beberapa penjaja makanan dipenuhi calon pembeli yang beresedia mengantre cukup panjang. (Inibaru.id/ Kharisma Ghana Tawakal)
Beberapa penjaja makanan dipenuhi calon pembeli yang beresedia mengantre cukup panjang. (Inibaru.id/ Kharisma Ghana Tawakal)

Di sisi kanan, berderet meja dan kursi untuk mereka yang mau makan santai sembari menikmati musik, mengamati orang-orang berjalan, atau bercerita panjang dan dalam dengan sahabat. Semarak dan semangat Semawis nggak pernah berubah dari dulu hingga sekarang, batin saya.

Betul, ruh gelaran mingguan ini nggak banyak berubah, bahkan setelah dibungkam pandemi. Perbedaannya mungkin lebih pada penataan tenda yang lebih rapi, jenis makanan yang didominasi street food modern, serta pengunjung yang sependek pengamatan saya kebanyakan adalah anak muda.

Puas mengamati, saya duduk di trotoar, mengistirahatkan kaki sembari menyapa pengunjung yang juga sedang rehat. Helar Wilda Adella, seorang mahasiswi yang tinggal di Gunungpati, Semarang, malam itu seperti saya, sengaja mengunjungi Semawis untuk mengurai kesuntukkan.

“Mau merasakan keramaian Semawis, mau wisata kuliner, dan mau quality time sama teman,” jelasnya saat saya menanyai tujuannya jauh-jauh datang ke pasar yang buka dari pukul 18.00 hingga 23.00 WIB itu.

Beragam jenis makanan dan minuman kekinian bisa kita dapatkan di Pasar Malam Semawis. (Inibaru.id/ Kharisma Ghana Tawakal)
Beragam jenis makanan dan minuman kekinian bisa kita dapatkan di Pasar Malam Semawis. (Inibaru.id/ Kharisma Ghana Tawakal)

Menurutnya, penganan yang dijual di Semawis unik, enak, jarang ada di tempat lain, dan harganya masuk akal. Saya mengamini. Harganya memang terhitung lebih ekonomis ketimbang jajan di pusat perbelanjaan; Semawis menawarkan suasana yang lebih hangat, ramai, dan bebas.

Tiara Puspita, seorang pengunjung lain, juga mengaku menikmati berwisata kuliner di Semawis. Sudah lama menunggu dibuka kembali setelah pandemi, perempuan berjilbab itu akhirnya puas membeli makanan-makanan yang pengin dicicipi.

“Selain makanan khas Indonesia, di sini kita bisa memilih membeli korean food, japanese food, thai food, dan street food luar negeri lainnya,” terangnya.

Malam itu, Tiara, panggilan akrabnya, mengalokasikan Rp 100 ribu untuk acara berburu kulinernya di Semawis. Nominal itu lebih dari cukup untuk bisa mencicip nggak kurang dari tiga jenis makanan berbeda di pasar yang digelar Komunitas Pecinan (Kopi) Semawis itu.

Puas memanjakan lidah dengan makanan favorit, Tiara bersama sahabatnya memutuskan pulang. Seperti dirinya, saya pun bergegas kembali ke parkiran untuk pulang.

Sembari menghabiskan minuman dan camilan, dalam hati saya membatin, Semawis sama sekali nggak kehilangan daya tariknya. Meski gerimis, ia tetap ramai; dan kerinduan saya juga nggak ada habis-habisnya di tempat ini! Ha-ha. (Siti Khatijah/E03)