Dicap Abai dan Mitos-Mitos Lain yang Kerap Mampir ke Telinga Traveler Millenials!

Dicap Abai dan Mitos-Mitos Lain yang Kerap Mampir ke Telinga Traveler Millenials!
Generasi millenial dianggap melakukan traveling sekadar untuk eksistensi diri. Benarkah? (Kommersant)

Generasi millenial menjadi kaum yang cukup sering melakukan traveling. Namun, dengan meningkatnya jumlah traveler muda, mitos-mitos baru kemudian berkembang. Mitos-mitos itu nggak jarang pula membuat traveler millenial tampak buruk. Apa saja ya?

Inibaru.id – Media sosial berpengaruh besar dalam mengubah traveling menjadi sebuah kebutuhan bagi anak muda. Nggak hanya sebagai wadah eksistensi diri, medsos juga jadi tempat yang efektif untuk mempromosikan pariwisata suatu daerah.

Sayang, selain efek positif, media sosial juga menimbulkan efek negatif. Salah satu efek negatif ini adalah lahirnya mitos-mitos tentang para traveler muda. Apa saja mitos-mitos tersebut?

Sekadar Bentuk Eksistensi Diri

Traveling nggak sekadar eksistensi diri bagi generasi millenial. (Crowcanyonhome)

Nggak lepas dari gawai bikin generasi millenial sering dituduh melakukan traveling sekadar sebagai bentuk eksistensi diri.

Padahal, menurut laporan The Future of U.S Millenial, bukan media sosial yang mereka perhatikan selama liburan. Traveler generasi ini menekankan pentingnya fasilitas internet di tempat mereka menginap bukan untuk posting foto di media sosial, tapi mengecek surat daring dan berkomunikasi.

Nggak Bertanggung Jawab

https://rover.stridetravel.com/media/wysiwyg/solo-female-traveler-safari-2610260_1920_1_.jpg

Traveler millenials menghargai keaslian tempat yang mereka kunjungi. (Rover.stridetravel)

Generasi millenials kerap dianggap nggak bertanggung jawab dan egois, padahal ini juga hanya mitos. Dibandingkan generasi-generasi sebelumnya, kaum millenials justru lebih peduli dengan segala hal yang disampaikan pemandu, lo.

Mereka cenderung menciptakan komunikasi dua arah dan aktif bertanya. Mereka juga cenderung memperhatikan setiap informasi dengan saksama, serta menyukai keaslian dari tempat yang mereka kunjungi.

Hm, ini berarti generasi millenials justru menjadi orang-orang yang peduli pada kelestarian lingkungan dan budaya juga pastinya!

Menghabiskan Sedikit Uang

https://smallbiztrends.com/wp-content/uploads/2015/01/spending-money-on-social-media-850x476.jpg

Generasi millenial lebih memprioritaskan keselamatan ketimbang harga murah. (Smallbiztrends)

Mitos lain yang berkembang tentang traveler millenials adalah mereka nggak menghabiskan banyak uang. Ini melahirkan mitos lain bahwa mereka nggak memberi pendapatan besar bagi daerah wisata tujuan mereka.

Hm, ini lagi-lagi sekadar mitos. Masih menurut laporan The Future of U.S Millenial, sebanyak 57 persen anak muda lebih mengutamakan keselamatan ketimbang harga murah, lo. So, they spend money for no worry, too!

Nggak Ramah Pada Orang Asing

https://i.kinja-img.com/gawker-media/image/upload/s--U8DvGD9m--/c_scale,f_auto,fl_progressive,q_80,w_800/1321820848233458609.jpg

Mereka ramah pada orang asing, lo. (Flygirl.jezebel)

Generasi millenial juga dianggap susah bergaul dengan orang asing, terutama terhadap orang dari generasi yang berbeda dengan mereka. Nggak sepenuhnya benar!

Kenyataannya, jika sedang mengikuti tur secara berkelompok, mereka justru umumnya memanfaatkan kesempatan itu untuk memperluas relasi. Kesamaan tujuan wisata kerap menjadi “alat” untuk mendekatkan diri dengan peserta lain.

Sebagai traveler millenials, setujukah kamu dengan mitos-mitos itu? Atau, kamu justru punya perspektif lain tentang generasimu? (IB15/E03)