Desa Wisata Ngawen dengan Candi Buddha sebagai Magnetnya

Desa Wisata Ngawen dengan Candi Buddha sebagai Magnetnya
Di Desa Ngawen kamu bisa menemukan lima Candi Ngawen yang berdiri berjajar. (Rumah Pendidikan)

Desa Wisata Ngawen yang ada di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, merupakan desa wisata berbasis alam dan budaya. Di tempat ini, kamu bisa menemukan Candi Ngawen yang menjadi magnet utama wisatanya.

Inibaru.id – Kalau kamu tengah berkunjung ke Magelang, Jawa Tengah, coba deh mampir ke Desa Ngawen yang berlokasi  kurang lebih 10 kilometer dari Candi Borobudhur. Desa wisata yang ada di Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah punya banyak hal yang menarik untuk dikunjungi, lo, Millens.

Ada banyak paket wisata yang ditawarkan di desa ini seperti river tubing, outbond, jelajah desa, hingga wisata edukasi pertanian dan peternakan. Nggak hanya itu, di sana kamu juga bisa mengikuti kegiatan meronce bunga melati. Menarik kan?

Selain aktivitas-aktivitas wisata di atas, kamu juga bisa lo mengunjung Candi Ngawen. Yap, candi inilah magnet wisata utama dari desa tersebut.

Candi Ngawen Sebagai Ikon Desa Wisata Ngawen

Candi Ngawen terdiri atas dua candi induk dan tiga pewara. Masing masing bangunan diberi nama Candi Ngawen I, II, III, IV, dan V. Candi yang ditemukan pada 1874 ini diperkirakan dibangun sekitar abad ke-9 atau 10 Masehi.

Candi Ngawen termasuk dalam candi Buddha, tapi bangunannya mirip candi Hindu. Soalnya, bentuk bangunannya meruncing ke atas. Tapi, jika dilihat dengan lebih seksama, candi ini punya stupa dan teras yang merupakan simbol khas candi Buddha. Selain itu, di sana juga ada Arca Dhyani Buddha Ratnasambhawa dan Arca Dhyani Buddha Amithaba.

Kegiatan meronce bunga melati ini bisa kamu temukan di Desa Ngawen. (Instagram/Desawisatangawen)
Kegiatan meronce bunga melati ini bisa kamu temukan di Desa Ngawen. (Instagram/Desawisatangawen)

Keunikan lain dari Candi Ngawen adalah adanya lima buah candi yang berderet sejajar dari utara ke selatan. Seluruh bangunan candi juga menghadap ke timur dan memiliki denah bujur sangkar. Selain itu, pada setiap sudut Candi Ngawen II dan IV, ada empat buah arca singa.

Kondisi bangunan Candi Ngawen berbeda-beda. Hanya Candi Ngawen II yang dipugar pada 1927 yang masih utuh hingga ke bagian atap. Pada bagian kaki candi ini juga masih ada selasar dengan lebar 1,1 meter yang mengelilingi dinding utama. Sementara itu, pada bagian timur, ada pintu yang menghubungkan selasar dengan bilik candi.

Khusus untuk Candi Ngawen I, pemugaran pada 1927 tinggal menyisakan bagian kakinya saja. Meski begitu, pada bagian timur candi ada sepasang pipi tangga yang berhias Makara pada bagian ujung.

Arca singa menjadi keunikan milik Candi Ngawen. (Twitter/Yuki Aditya)
Arca singa menjadi keunikan milik Candi Ngawen. (Twitter/Yuki Aditya)

Kondisi Candi Ngawen III sama dengan Candi Ngawen I. Tapi, candi ini sama sekali nggak pernah dipugar. Pada candi ini, ada arca laki-laki yang berdiri dengan sikap tribangga dan relief perempuan kecil dengan pose menyembah di depannya.

Candi Ngawen IV baru dipugar pada 2011 lalu. Pada candi ini, kamu bisa menemukan relief gajah yang dilengkapi dengan sulur-sulur yang keluar dari jambangnya.

Candi terakhir, yaitu Ngawen V, cukup mengenaskan kondisinya karena hanya tersisa sebagian kaki pada sisi utara. Tapi, di sana ada relief arca laki-laki dan perempuan yang sedang bergandengan di sebuah relung.

O ya, Candi Ngawen III dan Candi Ngawen V sampai sekarang belum dipugar. Alasannya, batu bangunan aslinya masih belum ketemu sampai 70 persen.

Jadi, kapan nih kita main ke Desa Wisata Ngawen, Millens? (Rad, Can, Jad/IB32/E07)