Buk Renteng, Sungai yang Ada di Atas Jalan dan Sungai Lainnya

Buk Renteng, Sungai yang Ada di Atas Jalan dan Sungai Lainnya
Buk Renteng, sistem irigasi yang unik di Yogyakarta. (Instagram.com/bionmotret)

Buk Renteng atau Kanal van Der Wijk adalah salah satu saluran irigasi peninggalan Belanda yang dibangun menggunakan teknologi berbasis gravitasi. Hingga kini, selokan ini bisa mengaliri area persawahan di sekitar Minggir, Yogyakarta.

Inibaru.id – Ada sungai di atas sungai lainnya. Nggak, kamu sedang nggak salah baca kok. Hal ini benar-benar ada. Nggak perlu harus ke Eropa untuk melihat yang seperti ini. Di Indonesia, tepatnya di Yogyakarta, ada kok sungai yang lewat di atas sungai lainnya. Bahkan, di bawah sungai ini juga bisa dilewati jalan. Namanya Buk Renteng.

Dalam bahasa Jawa, Buk Renteng berarti jembatan yang bergandengan. Sebutan ini diisematkan untuk sebuah bangunan non gedung yang terletak di Dusun Tangisan, Banyurejo, Tempel, Sleman, Yogyakarta. Uniknya, bangunan ini merupakan saluran irigasi dengan beberapa terowongan yang berjejer di bawahnya.

Dengan tinggi sekitar 4 meter di atas permukaan tanah, Buk Renteng punya lebar 2,5 meter dengan kedalaman rata-rata 2-3 meter yang dipenuhi dengan air.  Bangunan yang berfungsi untuk mengalirkan air ini juga disebut sebagai Kanal van der Wick yang membentang sepanjang 17 KM.

Saluran irigasi yang menghubungkan Sungai Progo dan Sungai Opak Yogyakarta ini bukan sekadar bangunan biasa lo, Millens. Konstruksi bangunan ini menggunakan teknologi gravitasi bumi dengan dibuat lebih tinggi dari jalan dan dan area persawahan di sekitarnya. Bahkan, di sebuah spot, saluran irigasi ini melintang di atas sungai. Unik!

Terdapat terowongan di bawah saluran air yang berfungsi sebagai jalan yang dilintasi oleh kendaraan. Karena menggunakan teknologi gravitasi, maka air pada saluran ini nggak diarahkan dengan teknologi mesin sama sekali.

Buk Renteng dibangung dengan teknologi gravitasi. (Kabareminggir.com)
Buk Renteng dibangung dengan teknologi gravitasi. (Kabareminggir.com)

Penamaan van der Wick yang lekat dengan Belanda ini ternyata nggak lepas dari peran Gubernur Jenderal Jonkheer Carel Herman van Der Wick. Jaringan induk selokan Mataram dibangun pada zaman penjajahan Belanda tahun 1902-1932. Namanya kemudian digunakan untuk sistem irigasi yang dibangun di eranya tersebut.

Pembanguan selokan ini mengaliri lahan tebu yang banyak terdapat di Kecamatan Minggir dan Moyudan. Lahan tebu tersebut harus menyuplai kebutuhan pokok 17 pabrik gula di Yogyakarta pada zaman Belanda.

Buk Renteng terlihat dari atas. (Twitter.com/InfoJogja)
Buk Renteng terlihat dari atas. (Twitter.com/InfoJogja)

Hingga kini, saluran irigasi yang juga masuk dalam sistem Selokan Mataram itu masih bisa memberikan manfaat bagi petani yang berada di kecamatan Minggir. Bahkan salah satu petani di daerah tersebut mengungkapkan bahwa saluran irigasi ini bisa memenuhi kebutuhan air untuk 20.000 Ha sawah yang berada di Minggir dan sekitarnya.

Nama kanal ini pasti pernah kamu dengar sebelumnya, kan Millens? Selain sebagai nama kanal pengairan, van der Wick ini juga populer sebagai nama sebuah kapal mewah yang tenggelam di Laut Jawa pada 1921. Kisah ini juga dituliskan oleh Buya Hamka dalam buku dan telah difilmkan pula.

Tertarik datang ke sana, Millens? (Kab/IB27/E07)