Berziarah ke Makam Wali Gembyang di Tengah Kota Kendal

Berziarah ke Makam Wali Gembyang di Tengah Kota Kendal
Dari kiri, batu nisan Mbah Gembyang dan istrinya Raminten. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)

Makam Wali Gembyang yang berada nggak jauh dari Alun-Alun Kendal sering didatangi oleh peziarah dari dalam dan luar kota. Ritual doa dan pembacaan Yasin kerap dilakukan untuk mengenang jasa sosok pendakwah di Kendal, Mbah Gembyang.

Inibaru.id – Nggak jauh dari Alun-Alun Kabupaten Kendal, terdapat sebuah makam yang dituakan oleh masyarakat sekitar. Namanya Makam Wali Gembyang. Bangunan ini dibuat untuk menghormati penyebar agama Islam yang pernah berdakwah di Tiongkok kemudian ke Jawa bernama Mbah Gembyang.

Ketika saya datang, ternyata letak makam tersebut berada di antara perumahan warga. Bangunan makam secara keseluruhan didominasi warna hijau. Terdapat dua makam utama yang berjejeran yaitu milik Mbah Gembyang dan istrinya Raminten.

Nisan salah satu santri Mbah Gembyang. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)
Nisan salah satu santri Mbah Gembyang. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)

Selain itu juga ada tiga nisan lagi di bawah pohon putat berjumlah tiga, yaitu makam para pengikut (santri Mbah Gembyang).

Seorang laki-laki mengenakan pakaian abu-abu dan berpeci saya lihat tengah berdoa di dekat nisan. Nggak lama kemudian terdapat peziarah lain yang mengambil buku Yassin kecil lalu kemudian dibacakan di dekat makam.

Juru kunci makam M. Jayus Asrori menjelaskan, setiap hari selalu ada peziarah yang datang dari berbagai kota untuk membacakan doa. Meskipun, puncak keramaian dari makam Mbah Gembyang terjadi pada malam Jumat Kliwon.

“Ramai pas malam Jumat Kliwon. Juga pas haul Wali Gembyang setiap 9 Syawal yang rutin dan dihadiri para pejabat dari Pemda Kendal, alim ulama, dan masyarakat semua. Dalam haul juga ada tradisi membagikan nasi bungkus dan pemotongan tumpeng oleh bupati,” katanya.

Salah seorang peziarah tengah membacakan doa. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)
Salah seorang peziarah tengah membacakan doa. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)

Jasa Mbah Gembyang bagi Kota Kendal menurut Jayus sangat besar. Sebab dapat menyatukan berbagai golongan masyarakat, nggak terkecuali para ulama dan pejabat pemerintah. “Ulama dan umaro (pemerintah) sangat bersatu untuk Mbah Gembyang dan berjalan sampai saat ini,” lanjutnya.

Di sekitar makam terdapat pula sebuah tempat beribadah Musholla Wali Gembyang.  Di sana saya berjumpa dengan salah seorang peziarah bernama Komet dari Cepiring, Kendal. Menurut keterangan dari dia, berbagai orang dari dalam dan luar kota datang melakukan ziarah.

“Para peziarah datang ke sini padha tahlil. Apalagi Jumat Kliwon selalu ramai. Doa dan pembacaan Yasin bersama dilakukan sehabis Isya. Yang datang nggak cuma dari Kendal, tapi daerah-daerah lain,” ujarnya.

Makam Mbah Gemyang dengan suasana sejuk. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)
Makam Mbah Gemyang dengan suasana sejuk. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)

Kalau kamu tengah mengunjungi Kendal, nggak ada salahnya untuk datang ke mari, Millens. Seperti kata Jayus dan Komet, kalau bisa datang pas malam Jumat Kliwon ya. Malam yang mitosnya menjadi malam paling angker. Wallahualam. (Isma Swastiningrum/E05)