Berziarah ke Makam Soegijapranata, Uskup Pertama Indonesia

Berziarah ke Makam Soegijapranata, Uskup Pertama Indonesia
Nisan Soegijapranata di Taman Makam Pahlawan Nasional Giri Tunggal Semarang. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)

Sejarah mencatatnya sebagai uskup pertama dari kalangan bumiputra. Dia setia mengabdi pada umat Katolik hingga akhir hidupnya. Motto hidupnya yang terkenal adalah 100 persen Katolik, 100 persen Indonesia. Dialah Soegijapranata.

Inibaru.id – Berziarah ke Makam Pahlawan Soegijapranata sangat mudah aksesnya. Terletak di kawasan jantung Kota Semarang, tokoh terkemuka umat Katolik tersebut tepatnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Nasional (TMPN) Giri Tunggal Semarang. Letak TMPN berada di seberang POLDA Jateng.

Untuk menuju ke sana, kamu bisa menggunakan kendaraan pribadi, ojek daring, atau transportasi umum Trans Semarang turun di Halte Siranda. Memasuki kompleks TMPN, kamu akan disambut nisan berjejer rapi dan terawat. Makam Soegija sendiri sedikit menjorok ke dalam di sebelah kanan dari pintu utama.

Plang segi lima yang menunjuk makam Soegijapranata. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)

Di sana ada bangunan semacam pendopo khusus dari semen, di depannya ada plang segi lima dari keramik berwarna hitam bertulis: MAKAM PAHLAWAN NASIONAL MGR. SOEGIJOPRANOTO. Plang ini dari jauh sudah mencolok dan memudahkan peziarah untuk melawat Romo Soegija (baca Jawa: Sugiyo).

Istilah Romo dalam agama Katolik merujuk pada seorang pastor. Yaitu panggilan gelar para imam Katolik di beberapa daerah di Indonesia. Dalam bahasa jawa bermakna Bapak.

Romo Soegija merupakan orang pertama dari kalangan pribumi yang menjadi uskup di Indonesia. Dia lahir di Surakarta, 25 November 1896 dan meninggal dalam tugas di Steyl, Belanda, 22 Juli 1963. Dia ditasbihkan Uskup Vikaris Apostolik Semarang pada 1940. FYI, peran Soegija sendiri dalam perjuangan melawan penjajah sangat besar. lo

Bangunan utama makam Soegijapranata. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)

Pada zaman Jepang, ketika pastor-pastor Belanda masuk kamp interniran, imam Indonesia masih sedikit yang meneruskan pekerjaan mereka. Dalam masa kehidupan yang amat sulit, Soegija melakukan dukungan dalam meneruskan kehidupan paroki. Caranya dengan mengajar agama, memberi khotbah, memimpin upacara-upacara liturgi sederhana, memimpin upacara pemakaman, dan sebagainya.

Soegija juga sangat tegas mendukung Republik Indonesia pada masa penjajahan. Dia dekat dengan beberapa tokoh nasional, salah satunya adalah Soekarno. Meskipun Indonesia telah memproklamasikan kemerdekaannya, penderitaan rakyat belum berakhir. Soegija juga ikut turun dalam Pertempuran Lima Hari (14-19 Oktober 1945) dan Pertempuran Semarang yang kedua (18-21 November 1945).

Di nisan Sogijapranata tertulis "In Nomine Jesu" atau "Dalam Nama Yesus". (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)

Motto Soegija yang terkenal adalah “100% Katolik, 100% Indonesia”. Kalimat ini berasal dari pidato Soegija saat  Kongres Katolik Seluruh Indonesia yang diadakan di Semarang pada 1954. Jejak Soegija semasa hidup sampai akhirnya wafat telah membuktikan laku kepemimpinannya yang teruji. Hingga pada dia dinobatkan sebagai tokoh nasional.

Keren sekali ya, Millens. Berminat melawat? (Isma Swastiningrum/E05)