Berwisata Sambil Belajar Tentang Satwa di Wildlife Rescue Center Yogyakarta

Berwisata Sambil Belajar Tentang Satwa di Wildlife Rescue Center Yogyakarta
Orang utan diberi makan secara teratur oleh petugas. (Bariparamarta.wordpress)

Menjadi pusat rehabilitasi satwa liar yang hampir punah, Wildlife Rescue Center di Yogyakarta cocok untuk kamu dan keluarga yang pengin melihat lebih dekat binatang-binatang yang perlu dilestarikan.

Inibaru.id – Nggak hanya menjadi pusat nongkrong favorit kala malam atau kota penggila belanja, Yogyakarta juga memiliki wisata edukasi yang pantang kamu lewatkan. Namanya Wildlife Rescue Center (WRC).

Berlokasi di Dusun Paingan, Desa Sendangsari, Kecamatan Pengasih, Kabupaten Kulonprogo, WRC merupakan field project di bawah Yayasan Konservasi Alam Yogyakarta, sebuah LSM yang diketuai GKR Pembayun, yang bergerak di bidang konservasi satwa liar yang terancam punah dan dilindungi.

Penghuni WRC. (Bariparamarta.wordpress)
Penghuni WRC. (Bariparamarta.wordpress)

Seperti namanya, tujuan utama tempat ini adalah sebagai pusat penyelamatan dan perlindungan satwa yang akan direhabilitasi. Satwa yang ditangkar di kawasan ini kebanyakan adalah primata seperti owa jawa, monyet, beruk, dan terutama orang utan. Namun, ada juga tapir dan buaya.

Orangudome, Tempat Tinggal Ratusan Orang Utan

WRC berdiri di atas tanah seluas kurang lebih 14 hektare, dengan bangunan utama berupa kubah atau dome yang disebut Orangudome. Sebetulnya, ada dua kubah, yakni kecil dan besar. Kubah kecil berukuran 14x14x8 meter, sedang yang besar setinggi 25 meter dengan diameter 125 meter.

Kubah kecil mampu menampung 8-12 orang utan. Fungsinya sebagai kubah introduksi yang digunakan untuk mengobservasi orang utan hasil sitaan atau yand diserahkan secara sukarela oleh masyarakat.

Salah satu sudut di Wildlife Rescue Center. (Twitter/watespahpoh)
Salah satu sudut di Wildlife Rescue Center. (Twitter/watespahpoh)

Sementara, kubah besar berfungsi sebagai tempat tinggal ratusan orang utan yang sudah diobservasi. Orangudome ini dibuat semirip mungkin dengan alam liar tempat orang utan tinggal. Bangunan ini juga menjadi spot menarik bagi wisatawan yang datang.

Selain bisa melihat satwa primata lebih dekat, WRC juga menyediakan fasilitas lain untuk wisatawan yang datang, seperti penyewaan outbond, meeting room, high rope games, serta pendidikan konservasi mengenai satwa. Dana hasil penyedia fasilitas di sini digunakan untuk membantu rehabilitasi satwa di sana lo.

Sentuh Boleh, Kasih Makan Jangan

Saat berkunjung ke sana, beberapa aturan harus kamu taati ya, Millens. Di sana, kamu diperbolehkan melihat-lihat semua satwa, bahkan kadang diperbolehkan menyentuh mereka. Namun, jangan sembarangan memberi makan hewan-hewan tersebut, ya!

Ya, makanan seluruh satwa tersebut sudah diurus dan dikontrol secara teratur. Selain itu, kamu juga sebaiknya nggak menggunakan flash kamera saat mengambil gambar karena hal tersebut dapat menyebabkan hewan-hewan tersebut terkejut dan panik.

Orang utan diberi makan secara teratur oleh petugas. (Bariparamarta.wordpress)
Orang utan diberi makan secara teratur oleh petugas. (Bariparamarta.wordpress)

Oya, jalan menuju Kulonprogo bisa dibilang agak kurang baik. Maka, ada baiknya kamu menuju tempat tersebut dengan bersepeda motor.

Untuk menuju WRC, kamu bisa melewati jalur Godean, lalu lurus ke barat hingga melewati jembatan Sungai Progo ke Pasar Kenteng. Kalau sudah tiba di Nanggulan, kamu tinggal mengikuti papan petunjuk arah.

Nggak Dibuka untuk Umum

Tempat wisata ini buka setiap Senin hingga Sabtu mulai pukul 08.00 WIB sampai 15.00 WIB. Namun, perlu kamu tahu, tempat ini nggak terbuka untuk umum. Kamu nggak bisa datang sendirian tanpa memberitahu sebelumnya.

So, kamu harus merencanakan kedatanganmu bersama rombongan, entah teman atau keluarga. Harga tiket masuknya berkisar Rp 8.000 per orang.

Salah satu penghuni ERC Yogyakarta. (Kabarkota)
Salah satu penghuni ERC Yogyakarta. (Kabarkota)

Namun, karena sekarang sedang pandemi corona, kunjungan ini mungkin harus kamu tunda sementara, ya. Masukkan ke daftar kunjung dulu, deh! (IB07/E03)