Wisata Sejarah ke Pulau Penyengat

Berkunjung ke Tanjungpinang, Kepulauan Riau, sempatkanlah ke Pulau Penyengat. Meski hanya pulau kecil, pulau itu kaya wisata sejarah.

Wisata Sejarah ke Pulau Penyengat
Lanskap pulau Penyengat (wisatago.com)

Inibaru.id – Bila kamu berkunjung ke Tanjungpinang, Kepulauan Riau, maka sempatkanlah untuk menyambangi Pulau Penyengat. Sebuah pulau kecil yang kaya akan objek wisata sejarahnya. Pulau ini telah menjadi salah satu saksi sejarah perjuangan Kerajaan Kesultanan Riau terhadap penjajah pada abad ke-18. Di pulau ini terdapat pula cerita tentang beberapa tokoh dengan nama besar yang sangat berpengaruh dalam sejarah bangsa Indonesia pada masa itu.

Untuk berkeliling pulau, kamu bisa menyewa becak motor. Tenang saja, kamu nggak perlu takut "dipermainkan" oleh pengemudinya karena di tiap becak motor ada daftar tarifnya. Tarifnya pun cukup terjangkau. Untuk dua orang penumpang, kamu cukup membayar Rp 30 ribu per jam. Tapi kalau bertiga, tarifnya menjadi Rp 40 ribu per jam. Adapun untuk berkeliling pulau mengunjungi beberapa objek wisata, hanya membutuhkan sekitar 1-2 jam saja.

Hmm, memangnya apa saja sih yang menarik di Pulau Penyengat? Mengutip Kompas.com (17/5/2017), pulau itu memiliki banyak bangunan bersejarah yang bisa dikunjungi. Salah satunya tempat yang dapat kamu kunjungi adalah Masjid Sultan Riau. Masjid megah yang dibangun pada 1832 itu berada nggak jauh dari pelabuhan. Masjid ini memiliki warna kuning mencolok dengan akses hijau. Konon masjid ini dibangun dengan campuran putih telur sebagai bahan perekatnya.

Baca juga:
Maumere, Eksotisme Pulau Tanpa Ujung
Bala Balakang: Pulau yang Memanjakan Mata

Kamu juga bisa melakukan ziarah makam.  Ya, ziarah makam menjadi salah satu hal yang direkomendasikan jika kamu ke pulau ini. Terdapat beberapa makam yang bisa kamu kunjungi. Salah satunya adalah makam Raja Abdurrahman merupakan Yang Dipertuan Muda Riau VII, yang memerintah selama periode tahun 1832-1844. Makam raja  ini berada di depan pintu gerbang. Selain makam Raja Abdurrahman, ada sekitar 50 makam lainnya di kompleks ini. Kamu pun dapat membedakan jenis kelamin yang dimakamkan dari bentuk batu lisannya. Batu nisan berbentuk bulat untuk laki-laki dan yang berbentuk pipih untuk perempuan.

Berada di tempat yang lain, ada juga makam Raja Ali Haji. Dia merupakan salah satu pahlawan Kepulauan Riau berdasarkan karya sastranya. Salah satu karyanya yang hingga kini melekat pada budaya melayu di Riau adalah Gurindam Dua Belas. Kamu bisa juga bisa ke makam Engku Puteri Raja Hamidah. Dia adalah permaisuri Sultan Riau III, Sultan Mahmud Shah. Konon, Pulau Penyengat merupakan mahar nikah Sultan Mahmud Shah III kepada Engku Puteri.

Perlu kamu tahu, makam Raja Ali Haji dan engku Putri Raja Hamidah ini masih berada dalam satu kompleks. Selain keduanya, dalam kompleks itu juga ada makam  Raja Ahmad (penasihat kerajaan) dan Raja Abdullah Yang Dipertuan Muda Riau IX beserta permaisurinya Raja Aisyah.

Selain ziarah makam, kamu juga bisa mengunjungi Istana Kantor. Ini adalah  istana Raja Ali Yang Dipertuan Muda Riau VIII (1844-1857) atau juga disebut dengan Marhum Kantor. Dibangun pada 1844, bangunan ini nggak hanya dijadikan sebagai kediaman saja, tapi juga sebagai kantor oleh Raja Ali. Memiliki luas sekitar satu hektar beserta halamannya, meski sudah kusam bangunan itu masih berdiri kokoh.

Alternatif lainnya, datanglah ke gedung mesiu. Berdinding tebal dan berwarna kuning kusam, gedung ini mempunyai kubah bertingkat di atasnya. Selain dijadikan sebagai gudang tempat penyimpanan mesiu, gedung ini juga pernah menjadi penjara di masa kerajaan. Konon, ada empat gedung serupa di Pulau Penyengat.

Baca juga:
Taman Ujung Soekasada, Tempat Singgah Keluarga Kerajaan
Berkunjung ke "Pulau Awet Muda" di Sumenep

Tapi kalau kamu ingin melihat rumah adat melayu, datanglah ke Balai Adat. Bangunannya berbentuk rumah panggung khas Melayu yang terbuat dari kayu. Biasanya balai adat ini digunakan untuk menyambut tamu atau perjamuan bagi orang-orang penting. Di bagian bawah bangunan ini, terdapat sebuah sumur air tawar yang konon usianya sudah ratusan tahun. Sampai saat ini airnya masih mengalir dan dapat langsung diminum. Sedangkan di bagian dalam balai adat, kamu bisa melihat model pelaminan khas Melayu.

Untuk mencapai pulau Penyengat dari kota Tanjungpinang cukup mudah. Kamu bisa menumpangi kapal mesin yang disebut pompong. Dengan maksimal membawa 15 penumpang, kapal ini berangkat setiap hari dari pagi, siang sampai malam. Memakan waktu sekitar 10 hingga 15 menit, ongkos menyeberangnya pun cukup terjangkau, Rp 7.000 per orang. (ALE/SA)