Berkunjung ke Omah Pang, Tempat Belajar Budaya dan Kongko Bareng Warga Lokal

Berkunjung ke Omah Pang, Tempat Belajar Budaya dan Kongko Bareng Warga Lokal
Penampakan omah Pang. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Nggak sekadar bangunan unik yang cocok untuk berfoto, Omah Pang ternyata tempat untuk belajar kebudayaan lokal. Di sana juga banyak warga lokal yang siap menyambutmu bak di kampung halaman.

Inibaru.id – Di luar memang cuaca sedang panas menyengat. Namun semakin mendekati lokasi Omah Pang yang terletak di Desa Nongkosawit, Gunungpati, Semarang, suasana mendadak adem. Barangkali karena cuaca yang mendukung itu, anak-anak di sana dapat berkegiatan di luar dengan nyaman. Sebagian anak-anak itu berlarian, ada pula yang bermain sepeda. Sungguh riang.

Saya memarkir kendaraan tepat di depan gapura mini yang terbuat dari susunan ranting pohon. Begitu masuk, bangunan rumah dari ranting pohon (pang) sudah menyambut saya. Ukurannya nggak terlalu besar, karena bukan rumah tinggal. Dindingnya rumpang karena terbuat dari susunan ranting kayu jati. Atapnya diselimuti tumbuhan menjalar di seluruh bagian.

Warsono, penggagas Oamh pang. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)
Warsono, penggagas Oamh pang. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Di sudut lain, ada rumah pohon serta beberapa gubuk yang terbuat dari material yang sama. Berbagai bangunan ini berdiri di atas lahan dengan tanah merah yang dibiarkan begitu saja. Beberapa pohon yang berdiri kokoh dan rimbun cukup membuat suasana di Omah Pang teduh.

Warsono adalah orang yang ada di balik adanya Omah Pang. Dirinya yang menjadi ketua Kelompok Sadar Wisata Kandang Gunung mengaku bahwa omah pang menjadi prototipe rumah Jawa kuno primitif. Hmm… saya pun iya-iya saja.

Omah Pang dikenal sebagai salah satu upaya untuk memanfaatkan limbah berupa ranting pohon yang ada di sekitar Desa Nongkosawit. Namun, Warsono menyebutkan bahwa butuh sekitar 8 pohon jati besar untuk membangun Omah Pang dengan beberapa bangunan kecil lainnya. Yap, memang hanya bagian ranting yang dipakai.

“Kurang (tahu) pasti, tapi butuh sekitar 8 pohon jati,” ungkap Warsono.

Di sini kamu bisa belajar dan menyaksikan proses pembuatan wayang ringut. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)
Di sini kamu bisa belajar dan menyaksikan proses pembuatan wayang ringut. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Oh ya, ternyata Omah Pang punya makna sebagai tempat untuk melestarikan budaya dan kesenian. Dalam beberapa kesempatan, anak-anak akan bermain berbagai permainan tradisional di tempat tersebut.

“Omah Pang berarti Panggonan Anak-anak Ngleluri seni budoyo Guyub rukun,” ujar Warsono.

Yap, jika kamu berkunjung ke sana, kamu akan menemukan berbagai permainan tradisional. Nggak cuma itu, jika beruntung kamu bisa menyaksikan proses pembuatan wayang ringut. Di sana juga ada perpustakaan dengan koleksi buku berbahasa Jawa yang bisa kamu baca.

Lihat tumpukan ranting-ranting pohon itu! (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)
Lihat tumpukan ranting-ranting pohon itu! (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Di samping itu, keunikan Omah Pang cocok banget jadi spot foto lo, Millens. Dari berbagai sudut, bangunan Omah Pang bakal bikin fotomu tampak bertema rustic karena bangunannya didominasi kayu tanpa finishing.

Di beberapa kesempatan, warga akan dengan sengaja berkumpul dan bercengkrama di Omah Pang. Kamu juga bisa bergabung dengan mereka kok. Mereka juga nggak segan membagian beberapa makanan tradisinonal seperti talas rebus atau segelas kopi jika kamu berkenan.

Ya, perkumpul dengan warga lokal sambil menikmati hidangan tradisional bikin saya autokangen dengan kampung halaman. Selain keunikan Omah Pang, keramahan warga Nongkosawit jadi salah satu alasan untuk kembali lagi ke sana. (Zulfa Anisah/E05)