Berkunjung ke Menara Mercusuar Willem III; Melelahkan tapi Puas

Berkunjung ke Menara Mercusuar Willem III; Melelahkan tapi Puas
Mercusuar Willem III tampak dari Pelabuhan Tanjung Emas. (Inibaru.id/ Audrian F)

Setelah mengantongi izin untuk mengunjungi Mercusuar Willem III, saya langsung meluncur ke sana. Seperti yang saya duga sebelumnya, cagar budaya ini memang istimewa.

Inibaru.id - Sudah lama saya ingin berkunjung ke Menara Mercusuar Willem III yang ada di Tanjung Emas Semarang. Namun nggak pernah kesampaian karena untuk masuk ke lokasinya saja saya ragu karena harus memasuki kantor Navigasi Distrik Kelas II Semarang dan lagipula mercusuar tersebut nggak tampak dibuka untuk umum.

Keraguan saya itupun memang benar adanya. Bahkan dengan maksud melakukan peliputan saja, harus melewati proses birokrasi yang lumayan menyita waktu. Jika dipikir-pikir sebetulnya prosesnya simpel, kamu harus mengajukan surat permohonan dan menunggu jawaban. Cuma untuk sebuah tempat bersejarah dan berpotensi wisata mungkin cukup melelahkan.

Namun kejengahan saya itu dijawab oleh Januri, Koordinator Kelompok Sarana Bantu Navigasi Pelayaran(SPBN) Distrik Navigasi Kelas II Semarang. Dia membeberkan kalau mercusuar yang masih dikelola oleh Distrik Navigasi Kelas II Semarang ini jika dibuka untuk umum masih belum siap.

“Kami masih dalam tahap pembangunan. Di sekitar saja masih berantakan. Belum lagi jika memang abrasi melanda. Ini bangunan cagar budaya jadi kami serba hati-hati dalam menjaganya. Tapi sebetulnya memang ada tujuan dibuka umum buat ke depannya,” jelas Januri. Jadi jelas ya, kamu harus mengajukan surat permohonan dulu sebelum berkunjung ya, Millens.

Meskipun telah melalui proses yang melelahkan tadi, tapi kunjungan saya ke Menara Mercusuar Willem III terbayar impas. Saya ditemani Januri menyusuri tiap ruangan di menara ini.

Lantai 1 Mercusuar Willem III yang sudah terendam abrasi. (Inibaru.id/ Audrian F)

Di depan mercusuar, Januri menjelaskan kalau tiap tahun Distrik Navigasi Kelas II Semarang selalu berupaya merawat mercusuar. Dia yang hampir 30 tahun bekerja di area pelabuhan Tanjung Emas ini juga bercerita kalau perlahan mercusuar Willem III perlahan tenggelam.

“Sudah tenggelam sekitar 3 meter,” ungkapnya.

Januri memberi tahu kalau akan ada 10 lantai. Di lantai paling dasar sudah dipenuhi genangan air laut yang masuk. Sehingga untuk melewatinya pengelola memberi alas berkayu. Di beberapa sisi sudah mulai berkarat, tapi nggak semuanya. Saya membayangkan bagaimana 5 atau 10 tahun kelak. Air laut tentu akan semakin mengikis dan karatan juga nggak bisa dihindari.

“Saya kagum pada bangunannya. Ini nggak mungkin sekadar plat baja tapi ada campuran timahnya. Kalau enggak mungkin sudah berkarat semua,” ungkap Januri.

Terdapat pajangan dokumentasi Tanjung Emas dan mercusuar sejak zaman Belanda. (Inibaru.id/ Audrian F)

Untuk menaiki setiap lantai harus menggunakan tangga putar. Berada di dalam sebuah ruangan yang dikelilingi lempengan baja sudah sepantasnya kalau hawanya terasa panas. Namun hal itu tersingkirkan oleh rasa ingin tahu  yang ingin melihat lantai demi lantai.

Di lantai 2 sampai 4 terpajang berbagai dokumentasi mengenai Tanjung Emas dan mercusuar. Hampir semua foto menampakan aktivitas orang Belanda di Tanjung Emas. Mungkin itu semua memang peninggalan dokumentasi mereka.

Setelah itu lantai demi lantai terlewati. Saya membayangkan bagaimana jika dalam keadaan kondisi darurat. Pasti akan sangat lelah menapaki semua ini. Bayangan soal adanya lift untuk mempercepat langkah jelas sudah lewat dalam benak saya.

Pelabuhan Tanjung Emas tampak dari puncak Mercusuar Willem III. (Inibaru.id/ Audrian F)

Semakin naik luas ruangan semakin mengecil. Terlebih di lantai tertinggi atau di ruang lampu. Januri mengajak saya menuju ke teras. Untuk menuju ke sana harus melewati tangga putar yang sempit. Jujur, kendati bisa, saya cukup kesulitan melewatinya.

Sampai di luar, angin kencang berembus. Tampak pemandangan kapal-kapal yang terparkir di Pelabuhan Tanjung Emas. Semua lelah dan panas saat naik dari lantai ke lantai terbayar di sini.

Seru juga kan, Millens. Ingat ya, kalau mau berkunjung ke sini harus mengajukan surat permohonan dulu, nggak gampang. He he. (Audrian F/E05)