Berkelakar dengan Embung Langensari Yogyakarta, Tempat yang Seperti Sahabat Baik

Berkelakar dengan Embung Langensari Yogyakarta, Tempat yang Seperti Sahabat Baik
Embung Langensari tempat penuh kenangan. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)

Embung Langensari menurut saya adalah tempat paling bersejarah selama saya di Jogja. Di tempat ini banyak orang istimewa yang saya ajak main. Entah untuk sekadar ngobrol santai, berdiskusi, hingga mengungkapkan perasaan secara serius. Tempat ini bagi saya selalu merambatkan gejolaknya sendiri.

Inibaru.id – Sejauh pengamatan saya lima tahun tinggal di Yogyakarta, Kota Pendidikan ini memang nggak memiliki banyak Ruang Terbuka Hijau atau sekadar tempat berkumpul yang sejuk. Sehingga tempat-tempat seperti Embung Langensari menjadi pilihan. Setiap pagi dan sore tempat ini kerap didatangi masyarakat untuk olahraga. Saat weekend pun sering jadi tempat hiburan dan mancing.

Tahun 2013 sebelum menjadi embung, tempat itu adalah SD Negeri Langensari. Hampir tiga tahun saya nge-kos di sekitarnya. Setiap pagi SD itu ramai dengan anak-anak dan penjual jajan. Dua tahun setelahnya SD dipindahkan dan dibangunlah Embung Langensari. Beralamatkan di Jalan Kusbini No.35, Klitren, Gondokusuman, Kota Yogyakarta tempat ini menjadi destinasi wisata baru.

Air embung yang selalu menenangkan. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)

Langensari dalam Bahasa Jawa Kuno terdiri dari dua kata, Langen yang berarti kesenangan dan sari yang bermakna inti rasa. Secara utuh menyiratkan perasaan senang dan damai. Orang yang pernah datang kemari niscaya akan selalu senang dan rindu untuk datang kembali. Filosofi ini cocok untuk saya. Jika saya tengah sedih, bahagia, dan gulana, tempat ini sering menjadi obatnya.

Ya, semacam saksi ketika saya putus harapan pada seseorang, membaca buku dari pagi sampai siang atau siang sampai sore, kencan dengan teman seorganisasi, melamun masa depan, menggarap skripsi, hingga peringatan wisuda saya rayakan bersama Embung Langensari. Kala saya rebahan di salah satu tempat duduknya pernah punya cita-cita dan itu pernah saya tulis:

“Jika umurku tinggal lima jam, aku akan duduk manis di Langensari, menikmati nafas, melihat langit dan awan yang berganti bentuk, warna, dan cerita; sambil mendengarkan lagu Tiny Rainbow. Tanpa pretensi untuk menjadi berguna dan berharga bagi siapa pun.”

Embung Langensari memiliki luas 5.890 meter persegi, kapasitas tampung sebesar 9.780 meter kubik, dan kedalaman sekitar 3 meter. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)

Kalau sempat, datanglah seusai hujan pada waktu menuju senja. Duduklah di kursi santai warna cokelat di sebelah timur, niscaya kamu akan melihat banyak ikan dengan mulut menganga muncul ke permukaan.

Di langit barat senja warna jingga bercampur warna emas, ungu, dan biru juga akan memberikan rasa syahdunya. Sinarnya yang hangat akan memantul dari atas air embung. Tunggulah hingga matahari benar-benar purna lingsir dari cakrawala, amati perpindahannya, dan rasakan saat atmosfer mulai menggelap. Di waktu itulah pintu utama embung akan ditutup, dan kenangan cahaya senja akan menemanimu sampai rumah.

Sejuk dan segar, dengan hiasan bunga-bunga kertas di tepi embung. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)

Bagi saya sendiri, Embung Langensari memang bukan sekadar tempat, tapi juga sahabat baik. Untuk orang lain bisa jadi sangat biasa saja, tapi di tempat dan semua kenangannya bagi saya luar biasa. Bagaimana Millens, tertarik berkunjung? (Isma Swastiningrum/E05)