Benteng Willem II Ungaran, Tempat Petilasan Pangeran Diponegoro Sebelum Dibuang
Benteng Willem II Ungaran. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)

Benteng Willem II Ungaran, Tempat Petilasan Pangeran Diponegoro Sebelum Dibuang

Benteng Willem II atau yang kerap disebut Benteng Ungaran merupakan tempat pertahanan perang di masa kolonial Belanda. Juga pernah menjadi tempat penjara Pangeran Diponegoro ketika dirinya hendak diasingkan ke Makassar, Sulawesi Selatan.

Inibaru.id – Memasuki pintu Benteng Willem II Ungaran saya disambut sebuah tulisan di marmer berisi peresmian pemugaran benteng oleh Kepala Kepolisian Daerah Jawa Tengah Edward Aritonang pada 1 Juli 2011.

Di salah satu bangunan benteng sebelah kanan dekat panggung, saya bertemu dengan Santoso dan istrinya Acik selaku perawat dan pengunggu benteng. Mereka tinggal di benteng tersebut sejak 2012, setelah usai dipugar. Sebab Santoso tengah sibuk membuat minuman bagi bintara, saya pun ngobrol dengan Acik.

Replika museum. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)

Perempuan itu memberi saya buku tipis (booklet) dari Kepolisian Negara Republik Indonesia Daerah Jawa Tengah Resor Semarang berjudul Beteng Willem II Ungaran.

Di dalamnya tertulis Benteng Willem II diperkirakan dibangun pada 1743-1746. Lalu pada zaman penjajahan, benteng direnovasi dan diperbarui untuk garnisun (tempat kedudukan tentara) VOC di Ungaran rentang waktu 1784-1786.

Lonceng tertanggal 1784 koleksi benteng. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)

Saya membaca lebih lanjut di abad 19 teryata benteng diduduki oleh berbagai penguasa. Seperti jatuh di tangan Republik Batavia (1800-1807), Prancis (1807-1811), kerajaan Inggris (1811-1816), Belanda (1816-1942), hingga jatuh pada tentara Jepang (1942-1945).

Pada masa Belanda, juga sempat digunakan sebagai kamp milier Belanda (1918-1919). Lalu berlanjut pada masa Jepang (1942-1945) sebagai penjara bagi orang Indonesia yang membangkang. Hingga pada September 1945 benteng tersebut dikosongkan dan para tahanan dibebaskan.

Bagian tengah benteng. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)

Pasca-kemerdekaan, pada 1950-1951 benteng sempat diduduki oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI). Kemudian benteng di bawah pengawasan POLRI dan dijadikan tempat tinggal atau asrama (1951-2007), meski karena suatu hal  pada 2007-2011 Pemda mengosongkan benteng. Hingga pada 2011 Polda mengurus sertifikat dan resmi menjadi milik Polri pada Maret 2011.

"Sejarahnya benteng ini digunakan sebagai rapat-rapat, Polres, kegiatan kepolisian, kalau mau menggunakan untuk masyarakat juga bisa. Untuk acara apa sekolah atau lainnya. Kalau sekolah untuk sejarahnya," kata Acik.

Sumur telah dihubungkan dengan pompa air. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)

O ya, kisah terkenal dari Benteng Willem II adalah pernah menjadi petilasan Pangeran Diponegoro sebelum dibawa ke Makassar. Tepatnya pada Agustus 1830 menjadi penjara bagi putra sulung dari Sultan Hamengkubuwana III tersebut.

“Diponergoro kalau di sini itu cuma transit. Seperti itu, di ruangan sana. Di panggung itu ada sumurnya yang ditutup, jamannya Diponegoro,” lanjut Acik menunjuk letak area sumur.

Sayangnya, saat saya berkunjung sumur telah ditutup. Meski begitu sumber airnya masih terus mengalir, dan airnya didistribusikan menggunakan pompa air. Kata Acik, air dari sumur itu bagi orang yang percaya ketika digunakan untuk mandi bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit. Aih, jadi pengin cuci muka. Kali saja jerawat di wajah saya hilang, ha-ha.

Bagian klinik di benteng terdapat ruang menyusui. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)

Menjelajahi lokasi benteng lebih jauh, saat ini selain digunakan untuk kamp bintara, ternyata benteng juga menjadi balai pertemuan polisi dan masyarakat. Pantas saja saya menemukan ada ruang menyusui di sana.

Acik bilang memang benteng digunakan pula untuk klinik, juga kegiatan bertema pendidikan lainnya. “Kemarin juga ada pameran sejarah itu bagus diceritakan semua kisahya,” ujar Acik. Wah, sayang juga melewatkan pameran ini.

Tempat yang juga menjadi balai pertemuan polisi dan masyarakat. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)

Puas mengetahui sejarah benteng, saya pun pamit dan undur diri dari Acik dan suaminya. Sungguh liburan sejarah yang mengasyikkan. Millens tertarik mengunjunginya juga? (Isma Swastiningrum/E05)