Bendungan Pleret Semarang, Kanal Air Tertua yang Simpan Banyak Cerita

Bendungan Pleret Semarang, Kanal Air Tertua yang Simpan Banyak Cerita
Para pemancing menikmati aktivitasnya di Bendungan Pleret Semarang. (Inibaru.id/Triawanda Tirta Aditya)

Bendungan Pleret atau Bendungan Simongan adalah kanal air tertua di Kota Semarang. Aktif sejak 1879, kanal ini juga menjadi saksi perjuangan melawan penjajah.

Inibaru.id – Bendungan Pleret atau Bendungan Simongan sering dianggap sebagai salah satu spot paling asyik untuk memancing di pusat kota Semarang. Namun, nggak banyak yang tahu bahwa bendungan ini merupakan kanal air tertua Kota Lunpia berusia 143 tahun.

Menurut media lawas Belanda seperti De Locomotief dan Samarangsch handels-en adverentie-blad yang terbit pada 14 Maret 1885, Bendungan Pleret sudah berfungsi sejak 1879, yang dibangun pemerintah Hindia Belanda sebagai pengendali banjir yang kerap mendera Semarang abad ke-19.

Selain itu, bendungan ini juga masuk dalam program kanalisasi sungai di Kota Semarang. Saat itu, kanal-kanal di kota ini bisa mengaliri area persawahan.

“Awal kanalisasi dan pembangunan ada di wilayah Simongan, dan saat itu disebut bandjir kanaal. Sekarang disebut Bendungan Pleret,” ucap sejarawan Kota Semarang Joseph Army Sadhyoko, Senin (16/8/2022).

Sempat Jadi Lokasi Pejuang Melawan Belanda

Bendungan Pleret dibangun pada masa kolonial Belanda. (Tribunnews/Budi Susanto)
Bendungan Pleret dibangun pada masa kolonial Belanda. (Tribunnews/Budi Susanto)

Sejarah unik lainnya dari Bendungan Pleret adalah lokasinya jadi salah satu titik terpenting bagi para pejuang saat mengusir penjajah. Titik tersebut adalah di Jembatan Kaligarang yang ada di bagian utara bendungan.

Kisah perjuangan tersebut sempat diceritakan oleh Purnawirawan TNI Kolonel Nursahit. Saat masih kecil, Nursahit melihat Jembatan Kaligarang dihancurkan para pejuang demi mengadang pergerakan pasukan penjajah.

“Pada 1947, Belanda ingin menggempur Yogyakarta. Mereka melintas di Kota Semarang dan tertahan di sekitar Bendungan Simongan. Kalau jembatan itu nggak hancur, alutsista Belanda akan dengan mudah menggempur pertahanan Indonesia dengan cepat,” cerita laki-laki yang kini berusia 83 tahun tersebut.

Selain itu, ada juga yang menyebut gorong-gorong di sekitar Bendungan Pleret dipakai para pejuang saat terjadi Pertempuran Lima Hari di Semarang. Hal ini sempat dikisahkan praktisi spiritual dan budayawan Semarang, Mbah Bejo

Gorong-gorongnya di depan Polrestabes yang sekarang adalah Taman Kasmaran. Di situ ada aliran masuk ke Pleret. Tentara Semarang dulu lewat gorong-gorong itu,” cerita Mbah Bejo, 20 Februari 2022.

Kini, Bendungan Pleret lebih dari sekadar tempat untuk mengendalikan banjir atau spot memancing favorit bagi warga Semarang. Keberadaan Taman Bendungan Pleret membuat lokasi tersebut jadi semakin nyaman untuk dijadikan warga berkumpul, melihat pemandangan, atau sekadar nongkrong.

Oya, kalau pengin memancing, pastikan untuk selalu berhati-hati. Kenapa? Karena debit air sungai di situ bisa sewaktu-waktu naik secara drastis manakala terjadi hujan lebat di hulu. (Rad,Kom,Tri/IB09/E03)