Bakal Jadi Lokasi Liga 1, Ini Dia Sejarah Stadion Citarum Semarang

Bakal Jadi Lokasi Liga 1, Ini Dia Sejarah Stadion Citarum Semarang
Stadion Citarum sarat akan sejarah. (Inibaru.id/ Audrian F)

Awalnya, tempat ini cuma lapangan terbuka biasa. Barulah pada 1983, stadion bernama Citarum dibangun dan diresmikan dua tahun kemudian. Lantaran representatif, stadion ini bakal menjadi tempat berlangsungnya Liga 1 pada awal Maret. Lalu, seperti apa sejarah stadion sepuh ini?

Inibaru.id - Tahun 2020, PSIS berencana bakal balik lagi ke Semarang. Namun yang akan digunakan sebagai homebase bukanlah Stadion Jatidiri melainkan Stadion Citarum. Hal ini juga didukung oleh adanya sejumlah perbaikan. Seperti penambahan kursi tribun dan juga yang terutama, rumput sintetis.

Terlepas dari itu, dibanding Stadion Jatidiri, usia Stadion Citarum bisa dikatakan lebih tua dan juga banyak merekam sejarah penting bagi PSIS Semarang. Laga-laga besar pernah digelar di sana.

Merujuk arsip Suara Merdeka edaran Jumat (16/2/1985), Stadion Citarum diresmikan pada 14 Februari 1985. Sebelumnya Wali Kota Semarang, Kol H Iman Soeparto Tjakrajoeda, SH, sudah menghendaki adanya pembangunan.

Dr Abdul Gafur, Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) pada saat itu merupakan tokoh yang kali pertama menendang bola di sana sebagai simbol diresmikannya stadion. Kemudian penandatanganan prasasti dilakukan oleh wakil Gubernur Jawa Tengah Drs Soekardjan Hadisoetikno.

Suasan Stadion Citarum saat digunakan oleh PSIS Semarang. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>
Suasan Stadion Citarum saat digunakan oleh PSIS Semarang. (Inibaru.id/ Audrian F)

Selepas peresmian, digelar pertandingan Babak 6 Kecil untuk menentukan peringkat 7 hingga 12 Kompetisi Divisi Utama Perserikatan PSSI 1985. Lawannya adalah PSP Padang. Meskipun sebelumnya telah diwarnai perubahan jadwal yang disepakati oleh beberapa tim. Skor dimenangkan oleh PSIS dengan 3-1.

Wartawan olahraga senior Amir Machmud NS, saat ditemui di Kantor PWI pada Senin (24/2/2020) pagi, bercerita banyak hal mengenai stadion tersebut. Menurut Amir, jika berbicara Stadion Citarum nggak bisa lepas dari ketua harian PSIS pada saat itu yaitu Ismangoen Notosapoetro.

“Ismangoen adalah salah seorang konseptor Stadion Citarum. Sekaligus mengawal pembangunannya. Itu kan dulu sebetulnya cuma lapangan terbuka. Yang menggunakan latihan cuma klub-klub di bawah naungan PSIS Semarang. PMC salah satunya,” jelas Amir.

Amir Machmud mengungkapkan kalau Ismangoen benar-benar serius dalam merawat Stadion Citarum. Saban hari selalu tampak bersih karena dia dikenal sebagai pribadi yang perfeksionis.

Kursi Stadion Citarum yang sudah diperbarui. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>
Kursi Stadion Citarum yang sudah diperbarui. (Inibaru.id/ Audrian F)

Meskipun begitu pada awal berdiri, Stadion Citarum sudah dikhawatirkan nggak mampu menyelenggarakan pertandingan-pertandingan besar. Sebab lokasinya berada di dekat Rumah Sakit Pantiwilasa Citarum.

“Dulu kan Jalan Arteri Soekarno-Hatta itu belum ada. Kalau sekarang kan diperlebar. Jadi akan dikhawatirkan bakal menggangu ketentraman. Namun meskipun begitu sudah sempat digunakan sebagai pertandingan besar. Seperti pagelaran Piala Tugu Muda yang mendatangkan klub-klub mancanegara,” ujar Amir.

Dia juga berkata kalau sebetulnya ukuran lapangan Stadion Citarum itu cuma menyentuh standar minimal FIFA. Sebetulnya untuk profesional belum terlalu besar. Kalau dipenuhi oleh suporter serasa mirip arena sabung ayam. Kalau di Inggris dia menjajarkan seperti stadion lama Arsenal yaitu Highbury.

Selain Amir Machmud, seseorang yang menjadi saksi awal kehadiran Stadion Citarum adalah dr Yuslam Samiharja. Dokter spesialis THT tersebut dikenal cukup perhatian dengan PSIS Semarang. Meskipun sebagian besar lupa, namun secara samar-samar dia masih ingat kenangan indah di sana.

“Di Citarum PSIS banyak menghasilkan pemain-pemain hebat. Bahkan kami sempat mengikuti Turnamen di Thailand. Waktu itu ada Joko Yogianto, Kasiadi, Ribut Waidi, dan Budi Wahyono,” ungkap dr Yuslam saat ditemui di klinik THT-nya pada Selasa (25/2/2020).

Parimin atau yang lebih akrab disapa ">
Parimin atau yang lebih akrab disapa "Mbah Kancil" menjadi saksi sejarah Stadion Citarum. (Inibaru.id/ Audrian F)

Menyinggung tentang Stadion Citarum mungkin nggak lengkap tanpa menyebut Parimin, atau yang lebih akrab disapa “Mbah Kancil”. Dia adalah penjaga sekaligus penjual jajanan. Sudah 30 tahun lebih, secara nggak langsung menjadikan Parimin sebagai saksi sejarah Stadion Citarum.

“Saya awalnya tahun 87. Wah, sudah kenyang momen apapun. Dari Perserikatan dan Galatama sampai sekarang dipakai PSIS lagi. Bedasarkan pengalaman saya sedikit ragu kalau akan digunakan sebagai kandang. Nggak akan sanggup menampung suporter. Soalnya sudah banyak kejadian pagar jebol,” pungkasnya.

Ternyata kandang PSIS ini sarat akan sejarah ya, Millens. Sekarang sudah banyak perbaikan di sana sini. Jadi, jangan dirusak ya! (Audrian F/E05)